Deputi III Kemenko Polhukam RI Memberikan Pembekalan Bagi Wisudawan FH Unika Atma Jaya2019

SHARE:

Deputi III Bidang Hukum dan HAM Kemenkopolhukam Dr.Fadil Zumhana memberikan pembekalan kepada 135 calon Sarjana Hukum Unika Atma Jaya,Jaka...

Deputi III Bidang Hukum dan HAM Kemenkopolhukam Dr.Fadil Zumhana memberikan pembekalan kepada 135 calon Sarjana Hukum Unika Atma Jaya,Jakarta,Selasa ( 20/8/19 )


Jakarta-IMC-Dalam rangka pembekalan Yudisium Fakultas Hukum (FH) UNIKA ATMA JAYA periode 2019 dengan Tema “Menjadi Sarjana Hukum yang Siap Melayani” yang diselengarakan pada hari Selasa (20/08/19) bertempat di Gedung Yustinus FH UNIKA ATMA JAYA. Hadir memberikan Pembekalan Dr. Fadil Zumhana, S.H., M.H., selaku Deputi III Bidang Hukum dan HAM, Kemenko Polhukam RI serta dihadiri oleh 135 wisudawan Fakultas Hukum, dan dihadiri oleh 200 orang tua para wisudawan serta pengajar dan staff.

Prosesi Yudisium diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan sambutan pembukaan oleh Dekan FH UNIKA ATMA JAYA. Pada kesempatan tersebut, Dr. Fadil memberikan pembekalan dengan tema “Komitmen Bersama Membangun Negara Hukum di Era Revolusi Industri 4.0” mengawali pembekalan dengan menyampaikan penghargaan dan apresiasi kepada FH UNIKA ATMA JAYA dan para pengajarnya yang telah berhasil mencetak bibit-bibit unggul di bidang hukum sebegai regenerasi pemimpin masa depan bangsa.

Mahasiswa dengan berbagai kemajuan teknologi yang ada di era Revolusi Industri 4.0 semakin mudah mendapatkan informasi dan pengetahuan lainnya dari berbagai media yang ada. Sehingga nilai Cum Laude tidak hanya sebagai primadona tetapi dapat diwujudkan. Harus sadar bahwa lulus dalam perkuliahan ini hanyalah awal dari realita yang akan anda hadapi selanjutnya, bukan akhir dari pembelajaran. Maka diharapkan setelah lulus tidak ada yang terlena dan bahkan berbangga diri akan gelar ini. Anjloknya para sarjana dikemudian hari karena mereka merasa puas dengan gelar sarjana saja. Sehingga para wisudawan kurang mampu menghargai statusnya sebagai agen perubahan bangsa Indonesia, maka anda wajib terus meningkatkan dan mengamalkan ilmu yang telah didapat sebagai bentuk pengabdian pada bangsa yang menjadi tanah air kalian.

Bagi yang telah diterima bekerja, maka bekerjalah denga penuh keikhlasan, jangan mementingkan gengsi semata sehingga hanya mampu meminta hak tanpa memenuhi kewajibannya. Bagi yang belum bekerja carilah pekerjaan yang halal apapun itu, jangan karena gelar Sarjana lalu memilih milih pekerjaan yang sekiranya pantas. “Karena semua pekerjaan adalah layak untuk dikerjakan selama itu halal. Maka janganlah menyerah dan teruslah berusaha meningkatkan skill dan kompetensi kalian karena saat ini dunia bukan lagi mencari orang namun mencari keahlian,” ujarnya.
Saat ini masyarakat sedang berada pada masa revolusi industri di mana sektor teknologi dan hukum sangat memegang peranan penting di dalamnya. Pesatnya kemajuan teknologi di era ini tidak semestinya disikapi sekadar perkembangan teknologi biasa, namun sebagai gelombang revolusi industri. Capaian teknologi saat ini telah mengubah cara hidup manusia mulai dari berpikir, berkomunikasi, bekerja, mobilitas, hingga tatanan sosial. Termasuk tatanan hukum yang berlaku.

Dunia modern saat ini sedang mencari formulasi yang tepat, pekerjaan yang tepat serta orang yang tepat juga untuk dipekerjakan. Banyak orang pintar dan berpendidikan tetapi nilai-nilai kejujuran, kesabaran, kesopanan, kerendah hatian sudah hilang dan luntur. Dunia membutuhkan orang-orang yang jujur dan amanah.
Bersikaplah yang sopan ketika anda telah sukses dalam capaian usaha kalian, termasuk setelah lulus ini, “Jaga integritas, jaga almamater dan bermanfaat bagi sesama. Ingatlah dibalik kesuksesan seseorang selalu ada doa dari orangtua, keluarga  termasuk bimbingan para dosen yang telah mengajarkan ilmu kepada kalian secara tulus dan ikhlas untuk menjadikan kalian sebagai agen perubahan bangsa yang terbaik,” pesannya.

Kesuksesan sebuah negara dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 erat kaitannya dengan inovasi yang diciptakan oleh sumber daya manusia yang berkualitas dan bagaimana menciptakan regulasi yang mampu mengaturnya. Peningkatan kompetensi yang responsif terhadap revolusi industri juga diperlukan desain ulang kurikulum dengan pendekatan human digital dan keahlian berbasis digital serta relevansi hukum yang mengaturnya.

Mengakhiri pembekalan, Dr. Fadil Zumhana mengajak pada para peserta yudisium untuk memikirkan bahwa sudah saatnya memastikan bahwa regulasi nantinya tidak menghambat inovasi yang senantiasa selalu terus berkembang. Hendaknya hukum mampu membingkai segala kemajuan yang ada dengan memberikan penguatan invensi dan inovasi nasional pada era revolusi industri 4.0 ini.( Muzer )

COMMENTS

[/fa-book/ THE LATEST NEWS]_$type=two$m=0$rm=0$h=400$c=2