No title


MAGETAN 2018, POTRET SIKAP KITA
Oleh : Stevanus Eka Kristiawan, SH
( Masyarakat Kab.Magetan, Pengurus PPWI DPC Magetan ) 
Tahun 2018 mendatang mungkin dapat dipersepsikan sebagai “tahun politik”bagi publik Kabupaten Magetan.  Sebab pada tahun itu, pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) akan diselenggarakan.
Sekedar melihat perkembangan situasi sampai dengan tulisan ini dibuat, ternyata perhatian sebagian publik  di Magetan terhadap pra pilkada sudah mulai menunjukkan “suhu politik” yang relatif lebih hangat dibanding keseharian sebelumnya.
Menurut hemat penulis, hangatnya “suhu politik” adalah hal yang lumrah dan membanggakan, bahkan bisa dijadikan salah satu rujukan untuk mengukur respon publik terhadap partisipasi  dan kecerdasan dalam sikap berpolitik mendatang.
Riak-riak tanggapan dan antusias publik Magetan  seakan samar – samar mulai menunjukkan “manifestasi” kecerdasan sikap dalam berpolitik. Mulai dari manifestasi yang bersifat opini dan kritik individu, pergerakan secara kelembagaan (ormas) , baik secara langsung maupun melalui medsos (media sosial).
Semisal di salah satu media jejaring sosial yang digemari publik yaitu facebook, mulai muncul berbagai informasi dengan substansi pembahasan terkait rencana Pilkada 2018 di Magetan.  Seperti yang saya lihat dan ikuti di grup jejaring sosial Facebook “ Magetan Berani – Bangkit ”.  Grup yang dibentuk pada 1 Juni 2016, saat ini mencapai keanggotaan sekitar 2.140 akun dengan suguhan bahasan, informasi, opini mengenai perspektif dan ekspetasi dalam Pilkada 2018. Tentunya ini adalah salah satu wadah dalam melakukan “unjuk pikir” yang bersifat konstruktif demi kemashalatan publik Magetan.
Kemudian secara kelembagaan, Ormas PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia) DPC Magetan (kebetulan penulis juga ikut di kepengurusannya). Selain kegiatan Jurnalistik, Keagamaan, Bhakti Sosial – Kemanusiaan dan fungsi kontrol pemerintahan, Ormas PPWI dalam program kerjanya juga mengagendakan giat politik “Forum Dialog Publik” yang rencananya akan menghadirkan Tokoh Muda, Tokoh Masyarakat, Aktivis – Jurnalis, penyelenggara pemerintahan, publik Magetan, bahkan bakal - bakal calon yang memang siap terpanggil untuk menjadi pemimpin di Magetan. Tentunya giat di atas adalah dalam kapasitas bertujuan sebagai wadah dalam meningkatkan partisipasi politik masyarakat, pembelajaran politik masyarakat, dan bukan dalam kepentingan politik pragmatis, transaksional ataupun ditumpangi aktor politik.
Berbicara politik, tentunya masing - masing individu memiliki sikap, persepsi dan sudut pandang yang berbeda. Ada yang terbawa semangat membara, aktif, partisipatif,  bahkan ada yang menganggap negatif, pasif, apatis. Tentunya apapun sikap mereka, pada dasarnya adalah sebuah perwujudan kebebasan dalam berpolitik dan hak individu yang dilindungi negara (selama sikap tersebut tidak menyalahi individu lainnya).
Tidak menutup kemungkinan beberapa sikap sentimen dan apatis individu untuk berpolitik disebabkan oleh paragdima fenomena dalam catatan politik di negara kita. Kecurangan pilkada (penggelembungan suara, kampanye terselubung, black campaign, dll), politik transaksional “money politik” , janji-janji palsu para aktor di kancah perpolitikan saat kampanye, kasus korupsi merajalela oleh tokoh partai, semuanya pernah diberitakan secara gamblang dan “tanpa tedeng aling-aling”  oleh media. Tentunya fenomena ini bisa kita cermati, evaluasi, dan lebih hati-hati dalam mengambil sikap dan mengerucutkan dalam sebuah pilihan politik.
Mengutip dari pernyataan tokoh politik legendaris Prancis (Ideolog dan Presiden Ke - 18 Prancis) CHARLES de GAULLE pernah mengatakan “ Politisi tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri. Mereka justru terkejut bila rakyat mempercayainya”. Menurut saya dalam menanggapai kutipan di atas, seakan-akan kita diyakinkan untuk tidak percaya kepada  semua politisi. Karena semua politisi itu pembohong, bahkan politisi sadar bahwa dia sedang bermaksud bohong kepada publik. Namun terlepas dari pengartian sederhana tersebut, terdapat sebuah pesan dan peringatan kepada seluruh politikus di negeri ini untuk lebih mawas diri dengan mampu melaksanakan atas apa yang pernah diucapkannya sampai berbusa-busa saat pidato di hadapan publik. Politisi dituntut bertindak dalam nurani manusia yang memiliki akal budi pekerti yang luhur, karena pertanggungjawaban atas emban amanah pada dasarnya tidak hanya kepada publik namun juga kepada Sang Pencipta. Politisi juga harus ingat bahwa ajaran politik pada hakikatnya adalah kebaikan.
Sedangkan bagaimanakah seharusnya respon kita terhadap hal tersebut? Saya tertarik mengutip pernyataan seorang penyair, sastrawan, dramawan dari Jerman BERTHOLD BRECHT :

Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional yang menguras kekayaan negeri.”

Ungkapan di atas memang seakan terdengar frontal, namun apabila kita mampu meresapi ada kebenarannya. Pemimpin lahir dari buah sikap kita . Dampak kebijakan pemimpin lahir dari sikap kita dalam berpolitik.  Memilih pemimpin baik dan benar adalah sama halnya dengan kita menjadi pemimpin yang baik dan benar. Bisa disimpulkan pertanggungjawaban atas pengangkatan seorang pemimpin dikembalikan kepada siapa yang mengangkatnya (publik tersebut).

Maka dari itu, kita sebagai sekumpulan masyarakat yang memiliki kepentingan dan tujuan kemakmuran bersama, perlindungan beragama, perlindungan keamanan – hukum, kesejahteraan ekonomi, dll.  Marilah kita bersama- sama berpartisipasi dan bersikap berpolitik dalam menentukan pemimpin ke depan. Bersama-sama berpikir untuk Magetan, dari berpikir kita tuangkan ke dalam kata-kata, dari kata-kata kita tuangkan dalam pergerakan dan pelaksanaan. Terntunya, demi tercapainya pembangunan Kabupaten Magetan yang maju, merata dan sejahtera. Bagaimanapun keadaannya, Magetan 2018 adalah potret dari sikap kita berpolitik..


Edit : pewarta sat

Post a Comment

Previous Post Next Post

نموذج الاتصال