Recent

Indonesia Media Center (IMC)

TNI - Polri Silaturahmi Nasional Bersama Ulama


Pekalongan | Jateng, IMC - Dalam rangka memupuk dan memperkokoh sinergitas dan soliditas, komponen bangsa dan elemen masyarakat diwilayah Pekalongan, Pemkab Pekalongan menggelar Silaturahmi Nasional Ulama bersama TNI dan Polri, Sabtu (23/12) di Pendopo Rumah Dinas Bupati Pekalongan. 


Silaturahni Nasional bersama Ulama dan TNI/Polri ini bertajuk "Satukan Langkah Untuk NKRI", dihadiri Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Danrem 071/Wk Kolonel Inf Suhardi, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi beserta Forkopimda Pekalongan, Bupati Jepara, KH.Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, Ormas dan organisasi pemuda Pekalongan. 

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi dalam sambutannya menyampaikan para ulama merupakan pamomong masyarakat, karenanya ulama atau tokoh masyarakat sangat berarti dan dibutuhkan agar tidak terjadi perpecahan di masyarakat. 

Dikatakan, apa yang terjadi di Timur Tengah, karena tidak ada yang mempersatukan dari pemahaman yang saling berbeda. 

"TNI adalah sebagai penjaga wilayah teritorial Indonesia, karena NKRI terdiri dari beribu-ribu pulau sehingga dibutuhkan TNI untuk menjaga pulau-pulau tersebut. Begitu pula Polri, sebagai penegak hukum. Sehingga perlu dari semua hukum adat yang ada guna mengatur hukum di Indonesia," terangnya. 


KH.Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, kegiatan yang dilakukan ini merupakan kegiatan rutinitas setiap tahunnya dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, dan kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan tersebut. 

Dikatakan, tiga kekuatan bangsa tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. TNI, Polri dan Ulama sebagai penjaga keutuhan NKRI. 

"Sebagai generasi penerus bangsa, semestinya mempelajari sejarah dengan baik dan berterimakasih atas jasa para ulama dan pahlawannya," ungkapnya. 

Tanyakan pada diri kita, lanjutnya. Apa yang sudah kita berikan kepada bangsa dan negara. Jangan malah mengkritisi para ulama dan pahlawan terdahulu, yang jelas jasanya untuk bangsa dan negara ini. 




"Thoriqoh bukan ilmu politik, bukan untuk ajang politik, tapi sebagai bamper NKRI, karena NKRI harga mati," ungkapnya.

"Tugas thoriqoh, membersihkan diri dari kebencian. Apabila dibiarkan akan menjadi sulit untuk dibersihkan hati kita, cinta kami pada Allah cinta Nabi Muhammad SAW dan cinta pada NKRI," tegasnya. 

Sementara itu, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyampaikan rasa syukurnya dapat hadir dalam forum Silaturahmi Nasional Ulama bersama TNI dan Polri. 

Dikatakan, ia datang bukan sebagai Panglima TNI, ia datang hanya sebagai seorang prajurit TNI yang menunggu purna tugas sebagai prajurit TNI. 

Dikatakan pula, anggota BPUPKI yang merancang Pembukaan UUD 1945 sebagian besar adalah para ulama. 

"Pada saat TNI lahir, sudah diancam sekutu akan datang yang diboncengi NICA/tentara Belanda. TNI datang ke ulama ke Kyai Hasyim Asyari, dengan resolusi jihad berkumpul di Rembang untuk menentukan siapa pemimpinnya. Diambil keputusan yang memimpin Kyai Abas dari Rembang, dan yang membunuh Jenderal Malabi adalah santri, yang merobek bendera Belanda juga santri," ungkapnya. 

"Kalau ingin menghancurkan bangsa ini, harus pisahkan dulu TNI/Polri dengan Ulama. Memisahkan TNI/Polri dengan Ulama saat ini mudah dengan mendengungkan Radikal Kanan," terangnya. 

"Dalam konteks sekarang, tidak mungkin umat Islam akan merusak bangsa ini. Karena para Kyai ikut mendirikan bangsa ini. Para sesepuh bangsa membuat Pembukaan UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila," jelasnya. 

Dikatakan, yang menjauhkan dengan para ulama adalah yang sakit gigi yakni komunis yang tidak suka dengan TNI, Polri dan Ulama.

"Kita menghargai perbedaan yang merupakan karunia Allah SWT, bangsa Indonesia adalah bangsa yang orang-orangnya beragama. Sifat ksatria yang kecil ikut mengalah, maka untuk menyatukan satria-satria tersebut dengan menyatukan Sila Kedua dan Sila Persatuan Indonesia," ungkapnya. 


"Semua permasalahan tidak ada voting, tapi dengan musyawarah untuk mufakat. Inilah yang perlu diwaspadai sebagai pemecah perbedaan itu. Tidak ada Nabi yang turun di Indonesia, karena Nabi turun akibat masyarakatnya yang perlu dibenahi," lanjutnya. 

"Bhinneka Tunggal Ika bagi kita bangsa Indonesia, sudah final. Dan yang dapat mengingatkan adalah para Ulama, apabila ada yang salah mari kita ingatkan dan kembalikan. Semua masalah bangsa ini, tidak mungkin tidak, para ulama pasti bisa menyelesaikannya. Terima kasih kepada para Kyai, Habib yang telah menjaga bangsa dan negara ini," paparnya. (syf/didy/penremWK)
Share
Banner

Indonesia Media Center

Indonesia Media Center, Mewujudkan Keterbukaan Informasi Publik

Post A Comment:

0 comments: