Kenduri Laut,Wujud Rasa Syukur Nilai Islami dan Menjaga Kelestarian Lingkungan

SHARE:

Kuala Peunaga, IMC - Kenduri Laut atau sering disebut dengan Adat Laut merupakan tradisi masyarakat pesisir di Provinsi Aceh,terutama di...



Kuala Peunaga, IMC - Kenduri Laut atau sering disebut dengan Adat Laut merupakan tradisi masyarakat pesisir di Provinsi Aceh,terutama di Kabupaten Aceh Tamiang,Kecamatan Bendahara,Kampung Kuala Peunaga, Rabu (03/07/19).

Peringatan Kenduri Laut yang dilaksanakan pada setiap tahun, berfungsi untuk memperkuat eksistensi Lembaga Hukum Adat Panglima Laut terutama di Kampung Kuala Peunaga tersebut.

Ali mengatakan kenduri Laut merupakan upacara menjelang musim timur atau ketika musim barat akan berakhir dan kenduri laot rutin dilaksanakan setiap tahun pada setiap desa pantai yang merupakan wilayah Panglima Laut, maupun di kabupaten. Ujar ali

"Kenduri laut bagi masyarakat nelayan Desa Kuala Peunaga merupakan sebuah perwujudan rasa syukur, hubungan antara manusia sebagai makhluk ciptaan dengan Sang penciptanya dan menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya dalam menghadapi lingkungan setempat".



Ali menambahkan kenduri laut ini dilangsungkan dengan menggalang iuran dari para nelayan sesuai kemampuan. Besarnya sumbangan itu ditentukan melalui musyawarah yang melibatkan warga. Musyawarah itu juga menentukan jadwal pelaksanaan kenduri.

Yang paling utama dalam upacara kenduri laut dimulai dengan tahap persiapan. Dalam tahap ini dipersiapkan antara lain berbagai persajian makanan yang diperuntukkan untuk tamu-tamu juga warga masyarakat yang mengikuti upacara. Selain itu juga dipersiapkan perlengkapan peusijuk sebagai prosesi utama pelaksanaan upacara kenduri laot dan juga perahu sebagai pengangkut sesaji yang akan dibawa ke tengah laut.



Setelah berbagai keperluan yang digunakan untuk prosesi upacara tersedia, maka tahap berikutnya yaitu pelaksanaan upacara. Dalam pelaksanaannya upacara kenduri laot memiliki perbedaan-perbedaan pada daerah yang melaksanakannya baik mengenai waktu ataupun ritual didalamnya, namun pada intinya sama.

Daging lembu yang telah selesai disembelih kemudian dimasak. Semua masakan baik daging lembu maupun makanan lainnya tidak dibenarkan dimakan sebelum ada perintah dari panglima laot dan panitia. Setelah daging dan nasi dimasak sebagian langsung dipisahkan, untuk dinaikkan ke perahu bersama-sama dengan orang-orang yang membaca doa. Sisa dari lembu yang tidak dimasak seperti isi perut dimasukkan kembali dalam kulit lembu dan dijahit seperti semula.


Perahu yang membawa rombongan berangkat menuju ke tengah laut dengan membawa sesaji berupa kepala lembu dan isi perut serta tulang untuk dibuang ke tengah laut. Setelah sampai ditengah laut kemudian kapal yang membawa sesaji tersebut berhenti dan menurunkan sesaji yang dibawa tersebut dan dilanjutkan dengan membaca doa-doa keselamatan dan doa syukur.

Sekembalinya dari laut, diadakan acara makan bersama dengan para undangan,tokoh adat,unsur muspida dan masyarakat setempat.

Dalam acara kenduri laut tersebut turut di hadiri ketua DPC demokrat Aceh Tamiang,Nora Idah Nita,Forkopimcam Bendahara,TKSK Kecamatan Bendahara,Pendamping Desa,Imam Kampung,Pj Datok Penghulu Kuala Peunaga dan Tokoh masyarakat Alim ulama Cerdik Pandai dan unsur masyarakat lain nya.


Penyunting : BH

COMMENTS

[/fa-book/ THE LATEST NEWS]_$type=two$m=0$rm=0$h=400$c=2