Navigation

The Culture of Technology; Budaya dan Makna Teknologi Media Baru


Jakarta, IMC - Ketika Teknologi muncul, maka posisinya akan meng-ekstensi kemampuan manusia, namun pada kesempatan yang sama, disisi lain teknologi juga akan mengamputasi peran manusia. Teknologi akan mengekstensi kemampuan manusia ketika dia berada diposisi yang membantu kemudahan aktifitas manusia itu sendiri.

Contoh konkret  dalam kasus ini adalah, ketika sebuah telepon selular digunakan untuk menulis dan mengirimkan message ke orang lain, maka batas jarak dan ruang tidak lagi menjadi kendala dalam berkomunikasi. Telepon selular yang terkoneksi dengan internet dapat digunakan untuk membantu manusia dalam mencari lokasi tempat tertentu yang lebih dikenal dengan Global Positioning System atau GPS. Manusia dengan mudah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, namun, disitulah peran manusia menjadi teramputasi, karena semua bukan lagi bergantung pada kemampuan manusia, namun manusia tergantung pada teknologi.

(Pacey, 2000) dalam Culture of Technology, memberikan suatu analogi bahwa Technology: Practice and Culture, artinya bahwa teknologi diciptakan tidak sekedar sebagai alat / tools, namun lebih kearah  untuk membantu pemenuhan kebutuhan manusia.

Pada dasarnya, “goals” atau tujuan akhir dari teknologi adalah tercapainya kemudahan urusan bagi manusia. Aspek inilah yang sangat ditekankan oleh Pacey (2000) dalam the Culture of Technology,  Menurutnya, teknologi merupakan sarana pengembangan nilai-nilai dan kualitas hidup masyarakat. 

Pacey mencontohkan kegunaan teknologi snowmobile di Amerika Utara, pompa air di perkampungan negara India, sampai pada teknologi elektronik di Inggris. Masing-masing teknologi tersebut merupakan alat-alat praktis untuk kehidupan masyarakat setempat.

Pada waktu itu teknologi yang berkembang di Amerika bagian utara dan Canda adalah dengan munculnya alat transportasi di atas salju yang dikenal dengan “snowmobile”. 

Mulanya snowmobile digunakan sebagai alat untuk mobiltas masyarakat di daerah tersebut pada musim dingin, namun pada akhirnya banyak kendala yang dialami ketika pemanfaatan snowmobile di lapangan.  

Snowmobile tidak sepenuhnya memberikan manfaat bagi masyarakat, dalam pengoperasian snowmobile membutuhkan bahan bakar, ketika di tengah perjalanan kehabisan bahan bakar, hal ini menjadi masalah yang besar, sedangkan tangki bahan bakarnya terbatas untuk menempuh jarak tertentu, sehingga masyarakat meskipun menggunakan snowmobile sebagai alat transportasi, tetapi mereka tetap membawa 5 ekor anjing dalam mengiringi perjalanan melintasi salju.
Snowmobile awalnya hanya berfungsi sebagai alat transportasi di musim salju di Amerika Utara. Namun Seiring dengan perkembanganya, snowmobile digunakan untuk kompetisi olahraga dan penggunaanya mulai meluas keluar dari Amerika hingga ke Eropa. Namun ada kalanya snowmobile tidak digunakan apabila tidak sesuai dengan fungsinya. 

Dengan demikian, eksistensi teknologi memberikan kemudahan pada penggunanya dan disesuaikan dengan kebutuhan pada kelompok tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa bukan berarti manusia menjadi bergantung pada teknologi tersebut, apalagi pada dasarnya manusia pula yang menciptakan teknologi.
Lebih lanjut dijelaskan dalam The Culture of Technology (Pacey, 2000) tentang konsep yang dikemukakannya  bahwa peradaban menentukan teknologi, dan dalam penerapan teknologi ada ada 3 aspek yang mempengaruhinya yaitu; 

1) cultural aspect (goals, values and ethical codes, belief in progress, awareness and creativity), aspek budaya ini berkaitan dengan tujuan pengembangan teknologi, dimana teknologi dikembangkan agar budaya seiring berjalan dengan perkembangan teknologi itu sendiri; 

2) organizational aspect (economic and industrial activity, professional activity, users and consumers, trade unions), aspek organisasi maksudnya bahwa dalam proses pengembangan teknologi, diperlukan kerja sama masing-masing individu dari aspek sosial, ekonomi dan politik; da aspek yang terkahir; 

3) technical aspect (Knowledge, skill and technique; tools machines, Chemicals liveware; resources, Products and wastes), aspek teknis menyatakan bahwa perkembangan teknologi tidak terlepas dari aspek pengetahuan (knowledge), kemampuan bekerja (skill) dan engineering.
Ketiga aspek tersebut adalah hal-hal yang selaras dengan penuturan Pacey, namun terlepas dari itu, seyogyanya bahwa budaya lah yang mempengaruhi terciptanya teknologi. Dapat dijadikan contoh, dengan adaya teknologi digital dan media internet, aktiftas manusia lebih sering memanfaatkan teknologi tersebut. Budaya masyarakat yang tradisional mulai ditinggalkan. 

Pengantar dalam pendidikan mulai dengan memanfaatkan teknologi digital, mulai dari tingkat Sekolah Menengah hingga perguruan tinggi, notebook dan infokus sebagai ganti dari spidol dan papan tulis. 

System pendidikan dengan menggunakan e-learning, digital library, e-book, Koran on-line, dan lain sebagainya. Sadar atau tidak, terciptanya e-book, Koran online dan sejenisnya karena adanya budaya baca dari masyarakat. 

Meskipun demikian, tanpa e-book ataupun Koran online pun tidak akan mengurangi minat baca dari masyarakat. Artinya bahwa masyarakat tidak bergantung dengan teknologi yang ada, justru sebaliknya, bahwa budaya itu yang mendorong terciptanya teknologi.
Teknologi merupakan sebuah sistem dan praksis. Teknologi sebagai suatu sistem nilai dan praksis kerja yang mengikutinya berada dalam konstelasi proses progres atau kemajuan manusia. Dinamisasi efisiensi dan tujuan tertentu mau tidak mau mengandaikan sistem progres dalam teknologi (Pacey, 2000)

Efisiensi industri dan teknologi mengakibatkan mekanisasi, otomatisasi, massifikasi produksi dan konsumsi, ekspansi distribusi dan stabilisasi sumber alam yang dipakai untuk perkembangan teknologi itu sendiri. 

Tingkat kemajuan atau perkembangan teknologi diharapkan semakin mempermudah kerja manusia. Artinya, keyakinan progres teknologi semakin menempatkan manusia sebagai penikmat hasil teknologi tanpa perlu mempertanyakan kembali bagaimana proses hasil teknologi itu. Meski teknologi selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik, efisien, lebih murah, lebih mudah kepada manusia, tetap saja teknologi belum mampu menjawab misteri dalam seluruh proses penemuannya. 

Tingkat sofistikasi teknologi dan kebutuhan manusia juga membutuhkan tingkat keahlian (Pacey, 35-57). Tuntutan teknologi yang begitu canggih adalah kemampuan manusia yang tidak hanya memakainya tapi sekaligus membuat atau mereproduksi teknologi itu sendiri.
Teknologi juga dapat dipahami pada tiga tingkatan yaitu; 
1) teknologi merupakan alat dan artefak yang digunakan oleh manusia untuk mengubah alam, memungkinkan interaksi sosial atau memperpanjang kemampuan manusia. 
2) Teknologi dengan konteks penggunaan, serta bentuk fisik itu sendiri, maka teknologi sebagai isi atau software
3) Teknologi sebagai sistem pengetahuan dan makna sosial. Artinya teknologi merupakan sistem pengetahuan dan makna sosial yang menyertai pembangunan dan penggunaan teknologi itu sendiri. 

Seperti halnya dengan teknologi, arti budaya dapat dibedakan dalam 3 tingkat definisi, 
1) ada tingkat estetika, yang setara dengan budaya seni. Budaya sebagai 'seni' dan keunggulan estetika. 
2) definisi yang lebih secara antropologi, budaya sebagai way of life, atau bentuk pengalaman hidup, orang, masyarakat, dan kelompok sosial. 
3) makna budaya, berasal dari semiotika, antropologi struktural, budaya sebagai pokok 'sistem struktur‘.
Berbicara budaya, tidak lepas dari proses enkulturasi. Karena Pertama, Culture is learned behavior, maksudnya adalah bahwa setiap orang melalui proses enkulturasi ketika mereka tumbuh dalam komunitasnya dan orang-orang belajar dengan mengamati perilaku orang lain disekitarnya, termasuk pengenalan simbol tertentu dari budaya tersebut budaya. 
Kedua, Culture is shared; budaya merupakan atribut  yang tidak per individu tetapi melainkan sebagai anggota kelompok, Budaya ditransmisikan oleh budaya, Enkulturasi menyatukan orang-orang dengan memberikan pengalaman yang sama
Ketiga, Culture is Symbolic, artinya budaya tidak lepas dari simbol yang dapat berupa verbal (linguistik) atau nonverbal (objek, simbol tertulis). Contohnya, budaya jawa dengan gaya bahasa yang lembut dan santun.
Media baru secara singkat bisa kita terjemahkan sebagai media yang terbentuk dari kegiatan interaksi antara manusia dengan komputer, khususnya internet dan pemanfaatan lain dari komputer. 

Media baru merupakan istilah yang dimaksudkan untuk melingkupi kemunculan digital, komputer, atau jaringan teknologi informasi dan komunikasi pada sekitar akhir abad ke-20. 

Dari istilah di atas, juga tersirat mengenai jenis-jenis yang dapat dikategorikan ke dalam media baru, antara lain internet, website, komputer multimedia, permainan komputer, CD-ROM, dan DVD. Beberapa teknologi yang dikategorikan sebagai media baru sering kali diidentikkan sebagai teknologi digital.
Dalam teori media baru, Marshall McLuhan memperkenalkan istilah “Medium is an extension of man”, yang berarti bahwa medium adalah perpanjangan tangan manusia. Dan, yang paling mendekati dari pandangan McLuhan adalah mengenai teknologi mekanik (mechanical technology) dan elektrik, berupa internet. 
Semboyannya yang paling terkenal adalah: “Medium is the message”. Medium atau sarana yang mempengaruhi manusia, bukan isi (content) apa yang disampaikan. Karakteristik medium sebenarnya adalah makna dari pesan itu sendiri sedangkan isi pesan menjadi hal yang ‘nothing’. Teori ini menyebutkan bahwa internet adalah pengganti atau kepanjangan tangan dari manusia, artinya internet merupakan saluran penyampai informasi dari manusia yang satu kepada manusia lain yang dinilai efektif yang dapat menyampaikan pesan atau informasi sehingga terbentuk satu pengertian terhadap informasi yang disampaikan.
Media baru jenis internet memadukan ciri-ciri komunikasi massa dan komunikasi antarpribadi dalam satu media sekaligus. Karenanya, terjadi apa yang disebut sebagai demasivikasi (demassification), yakni kondisi di mana ciri utama media massa yang menyebarkan informasi secara masif menjadi lenyap. 

Arus informasi yang berlangsung menjadi makin personal, karena tiap orang mempunyai kebebasan untuk memilih informasi yang mereka butuhkan. Untuk itulah, saat ini banyak yang memanfaatkan media baru, terutama internet, sebagai sarana penyampaian informasi. 

Selain karena karakterisiknya yang mengikuti perkembangan zaman, media baru internet juga dianggap lebih efektif dalam penyampaian informasi kepada khalayak dan dapat langsung memperoleh feedback dari khalayak. 

Dalam hal ini,  internet tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk menunggu feedback terhadap informasi yang diberikan. (red)

Penulis : Syaefudin 
Bibliography : Pacey, A. (2000). The Culture of Technology. Massachussetts: The MIT Press Cambridge.
Share
Banner

Indonesia Media Center

Indonesia Media Center, Mewujudkan Keterbukaan Informasi Publik

Post A Comment:

0 comments: