News Update

Tanggul Jebol, Ribuan Hektar Lahan Pertanian Terancam Gagal Panen

 


Aceh Tamiang, IMC - Kondisi tanggul di Dusun 1, Desa Marlempang, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, semakin memprihatinkan akibat tingginya curah hujan dan meningkatnya debit air kiriman dari wilayah hulu. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat menyebabkan tanggul jebol dan mengancam kawasan permukiman serta areal pertanian di Kecamatan Bendahara dan Kecamatan Banda Mulia. Jumat (18/09)


Ancaman tersebut menjadi perhatian serius masyarakat, khususnya para petani yang menggantungkan kehidupan dan hasil panen dari lahan pertanian di kedua wilayah tersebut. Jika tanggul tidak segera diperbaiki dan kemudian jebol, luapan air berpotensi menggenangi lahan pertanian dan menyebabkan tanaman mengalami kerusakan hingga gagal panen.


Informasi mengenai kondisi tanggul tersebut disebut telah beberapa kali disampaikan oleh perangkat Desa Marlempang kepada pihak terkait. Namun, hingga saat ini masyarakat masih mengkhawatirkan belum adanya penanganan yang memadai terhadap kondisi tanggul yang dinilai sudah membutuhkan perbaikan segera.


Di tengah kondisi tersebut, kelompok tani dan masyarakat menyatakan kesiapannya untuk bergotong royong memberikan sumbangsih dalam upaya penanganan dan perbaikan tanggul. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian masyarakat sekaligus upaya bersama untuk mencegah air melimpah ke permukiman maupun memasuki kawasan pertanian.


Tani Merdeka Dorong Perbaikan Segera


Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Aceh Tamiang, M. Prawira Haji, S.Psi, meminta agar kondisi tanggul tersebut segera mendapat perhatian dari para pemangku kepentingan, khususnya Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang.


Menurutnya, persoalan tanggul tidak boleh menunggu sampai terjadi jebol dan banjir. Upaya pencegahan dinilai jauh lebih penting untuk melindungi masyarakat dan lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan para petani.


“Kondisi tanggul ini harus segera diupayakan perbaikannya. Kita berharap stakeholder terkait, khususnya Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, dapat segera turun melihat langsung kondisi di lapangan dan mengambil langkah penanganan sebelum terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” ujar M. Prawira Haji.


Ia juga menyampaikan bahwa kelompok tani dan masyarakat pada prinsipnya siap berpartisipasi dalam upaya penanganan di lapangan sesuai kemampuan yang dimiliki.


“Petani tentu sangat berkepentingan menjaga lahan pertanian mereka. Kalau tanggul sampai jebol, bukan hanya persoalan genangan air, tetapi juga menyangkut keberlangsungan tanaman dan potensi kerugian ekonomi masyarakat. Karena itu, semangat gotong royong masyarakat perlu didukung dengan penanganan teknis dan kebijakan dari pemerintah,” katanya.


Kondisi Tanggul Memprihatinkan


Sementara itu, Arif Pradana, Datok Penghulu Desa Marlempang, menjelaskan bahwa kondisi tanggul di wilayah desanya sudah cukup memprihatinkan. Tingginya debit air akibat hujan dan air kiriman dari hulu membuat masyarakat semakin waspada terhadap kemungkinan tanggul mengalami kerusakan lebih parah.


“Kondisi tanggul di desa kami memang sudah memprihatinkan. Apalagi saat curah hujan tinggi dan ada air kiriman dari hulu, debit air meningkat sehingga masyarakat menjadi khawatir tanggul tidak mampu menahan tekanan air,” jelas Arif Pradana.


Menurutnya, kondisi tersebut perlu segera mendapat perhatian dan penanganan agar tidak berkembang menjadi bencana yang berdampak lebih luas terhadap masyarakat.


“Kami berharap pihak terkait dapat segera melihat kondisi tanggul ini secara langsung. Jangan sampai kita menunggu tanggul jebol terlebih dahulu baru dilakukan penanganan. Kami tentu berharap ada langkah pencegahan agar masyarakat dan lahan pertanian dapat terlindungi,” tambahnya.


Petani Khawatir Terancam Gagal Panen


Kekhawatiran juga dirasakan para petani di Kecamatan Bendahara dan Banda Mulia. Mereka berharap tanggul dapat segera diperkuat sehingga areal pertanian yang saat ini menjadi sumber penghasilan masyarakat tidak terdampak banjir.


Para petani mengaku sangat mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya gagal panen apabila air masuk dan menggenangi lahan pertanian. Kerugian tidak hanya berupa rusaknya tanaman, tetapi juga biaya yang telah dikeluarkan petani sejak proses pengolahan lahan hingga penanaman.


“Kami sangat khawatir kalau tanggul sampai jebol. Kalau air masuk ke sawah dan tanaman terendam, tentu kami bisa mengalami kerugian dan terancam gagal panen. Kami berharap pemerintah segera mengambil tindakan sebelum kondisi semakin parah,” ungkap salah seorang petani.


Masyarakat juga menyatakan siap bergotong royong membantu penanganan tanggul sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan keselamatan bersama. Namun, mereka berharap upaya masyarakat tersebut dapat berjalan seiring dengan penanganan dari pemerintah dan stakeholder terkait.


Kondisi tanggul di Dusun 1 Desa Marlempang tersebut kini menjadi perhatian masyarakat karena menyangkut dua aspek sekaligus, yakni perlindungan permukiman dari ancaman banjir dan keberlangsungan sektor pertanian di Kecamatan Bendahara dan Banda Mulia.


Masyarakat berharap langkah cepat dapat dilakukan sebelum curah hujan kembali meningkat dan debit air dari hulu semakin besar, sehingga risiko tanggul jebol serta ancaman gagal panen dapat diminimalkan.

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment