Krisis Air Bersih Pasca-Banjir di Aceh Tamiang, PDAM Tirta Tamiang Ungkap Kendala Teknis
Aceh Tamiang, IMC - Krisis air bersih melanda wilayah Kabupaten Aceh Tamiang pasca-bencana banjir. Pendistribusian air minum dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Tamiang terhenti total selama empat hari berturut-turut. Kondisi ini memaksa warga merogoh kocek lebih dalam demi memenuhi kebutuhan air harian.
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya menyampaikan kekecewaannya atas kinerja pelayanan PDAM. Ia mengaku harus membeli air bersih kemasan jerigen untuk menopang aktivitas rumah tangga sehari-hari.
"Kami harus beli air. Dalam satu hari bisa habis enam jerigen dengan harga Rp7.000 per jerigen. Coba hitung berapa biaya yang harus kami keluarkan tiap hari cuma untuk beli air," ungkapnya, Kamis (10/09).
Kekecewaan masyarakat kian memuncak karena pelayanan PDAM dinilai tidak maksimal, baik dalam kondisi normal maupun di tengah situasi bencana. Warga menilai alasan operasional yang kerap berubah membuat kepercayaan publik menurun.
"Lebih baik PDAM dipihaktigakan saja. Kinerjanya tidak becus, air banjir salah, tidak ada air pun salah," tegas warga tersebut.
Berdasarkan standar pelayanan publik, BUMD pengelola air bersih bertanggung jawab menjamin ketersediaan pasokan air serta melakukan mitigasi cepat saat terjadi gangguan pasca-bencana. Hingga kini, warga masih menunggu solusi konkret dari manajemen PDAM Tirta Tamiang dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang.
Saat dikonfirmasi, Direktur PDAM Tirta Tamiang, Juanda, menjelaskan bahwa kendala distribusi terjadi akibat gangguan pada Instalasi Pengolahan Air (IPA) di dua wilayah operasional utama:
Unit Kota Kualasimpang: Tingkat kekeruhan ekstrem pada sumber air baku memaksa penurunan kapasitas pengolahan. Dalam kondisi normal, unit ini mengoperasikan dua pompa intake (kapasitas 7,5 kW dan 15 kW). Namun saat ini, pengolahan hanya dapat mengandalkan satu pompa intake 7,5 kW, sehingga volume air yang didistribusikan ke pelanggan menurun drastis.
Unit Karang Baru: Selain mengalami masalah kekeruhan air baku yang sama, unit ini juga menghadapi penyumbatan pada pipa sadap serta kerusakan pada pompa intake. Dampaknya, pengoperasian terbatas pada satu pompa distribusi saja.
Pihak manajemen menyatakan saat ini tengah berupaya melakukan perbaikan teknis guna menormalisasi kembali pasokan air bersih kepada para pelanggan.
