Isi Ceramah di PKA, Harli Siregar Tekankan Kepemimpinan Adaptif dan Integritas di Era Transformasi Digital
Pesan Kabadiklat Harli kepada Peserta PKA: Jangan Berhenti pada Ide, Pastikan Kebijakan Dieksekusi
|
Jakarta, IMC – Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan
(Kabadiklat) Kejaksaan RI, Dr. Harli Siregar, memberikan ceramah Isu Strategis
dan Kepemimpinan Kinerja Organisasi kepada peserta Pelatihan Kepemimpinan
Administrator (PKA) Angkatan I dan II Tahun 2026.
Kegiatan yang mengusung tema “Pengembangan Kepemimpinan Adaptif dalam Mendukung Transformasi Tata Kelola Bangsa Mewujudkan Resiliensi Nasional dan Daya Saing Global” tersebut berlangsung di Aula Badiklat Kejaksaan RI, Selasa (22/9/2026).
Dalam ceramahnya,
Harli didampingi Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen dan
Kepemimpinan, Dr. Teuku Rachman. Kegiatan diawali dengan perkenalan para
peserta PKA yang terdiri atas pejabat eselon III.
Harli menekankan
pentingnya kepemimpinan adaptif bagi pejabat administrator di tengah perubahan
yang berlangsung cepat dan kompleks. Menurutnya, perkembangan teknologi,
kecerdasan buatan, perubahan geopolitik dan geoekonomi, kejahatan lintas
negara, ancaman siber, serta tuntutan masyarakat terhadap transparansi dan
akuntabilitas menuntut pemimpin untuk mampu membaca perubahan dan mengambil
keputusan secara tepat.
“Kita sedang memimpin organisasi pada masa ketika perubahan berlangsung semakin cepat, saling terhubung dan sulit diprediksi,” ujar Harli.
Karena itu,
lanjut dia, aparat penegak hukum harus mampu merespons perubahan tersebut
secara cepat dengan tetap berpegang pada hukum dan kepentingan masyarakat.
Harli juga
mengaitkan kepemimpinan administrator dengan arah pembangunan nasional
sebagaimana tertuang dalam RPJPN 2025–2045, yakni mewujudkan Indonesia yang
maju, berdaulat, adil dan makmur.
Transformasi
ekonomi, sosial, tata kelola pemerintahan dan ketahanan nasional, kata dia,
membutuhkan sumber daya manusia yang unggul, inovatif dan mampu berorientasi
pada pembangunan berkelanjutan.
Dalam konteks
Kejaksaan RI, Harli mengingatkan bahwa arah kepemimpinan harus sejalan dengan
visi Kejaksaan RI 2025–2029, yakni “Menjadi pelopor penegakan hukum yang
berkeadilan, humanis, akuntabel, transparan dan modern.”
Menurut Harli,
pejabat administrator tidak sekadar bertugas mengelola administrasi. Mereka
memiliki peran penting sebagai penerjemah visi dan kebijakan organisasi menjadi
tindakan nyata di lapangan.
“Sebagai pejabat
administrator, Anda bukan sekadar pengelola administrasi. Anda adalah penerjemah
visi menjadi eksekusi,” tegasnya.
Ia meminta
peserta PKA tidak berhenti pada gagasan, konsep atau perubahan pola pikir
semata. Seorang pemimpin, kata Harli, harus mampu memastikan kebijakan dapat
diwujudkan dalam bentuk aksi yang terukur dan memberikan manfaat bagi
masyarakat.
“Jangan hanya
bermain di area mindset, jangan hanya bermain di area ide. Anda sebagai
pemimpin adalah pemimpin yang mampu mengeksekusi satu kebijakan,” katanya.
Harli menilai PKA
memiliki posisi strategis dalam menyiapkan calon-calon pemimpin yang nantinya
akan memimpin satuan kerja Kejaksaan. Mereka diharapkan mampu menghubungkan
kebijakan dengan pelaksanaan operasional sekaligus menjadi motor perubahan di
lingkungan organisasi.
Pelayanan Publik dan Kepercayaan Masyarakat
Dalam ceramahnya,
Harli juga menyoroti pentingnya kualitas pelayanan publik sebagai bagian dari
upaya memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap institusi Kejaksaan.
“Pemimpin lini
depan harus berperan dalam mewujudkan pelayanan publik yang baik. Dengan
pelayanan publik yang baik, itu juga akan memperkuat daya tahan bangsa karena
ada kemudahan-kemudahan yang diberikan, bukan malah kesulitan,” ujarnya.
Ia mengingatkan
peserta agar tidak menutup diri terhadap masyarakat. Sebagai pimpinan di lini
depan, termasuk para calon kepala kejaksaan negeri, mereka akan berhadapan
langsung dengan berbagai persoalan dan ekspektasi masyarakat.
Menurut Harli,
masyarakat sering kali memandang jaksa sebagai sosok yang mampu memberikan
jawaban atas berbagai persoalan hukum. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi
jajaran Kejaksaan untuk memberikan pemahaman dan pelayanan hukum yang tepat.
Untuk itu, ia
meminta para peserta PKA membangun komunikasi yang terbuka serta tidak menutup
diri dari masyarakat maupun perkembangan lingkungan strategis.
Integritas dan Orientasi Masa Depan
Harli juga
mengingatkan pentingnya menjaga integritas dalam menjalankan amanah sebagai
pemimpin di lingkungan Kejaksaan. Menurutnya, orientasi kepemimpinan tidak
boleh semata-mata diarahkan pada kepentingan materi.
“Kalau Anda masih
menginginkan Kejaksaan ini utuh, Kejaksaan ini eksis, jangan sampai orientasi
kita orientasi uang. Uang itu penting, tapi uang bukan segalanya,” tegasnya.
Ia meminta
seluruh peserta menyadari bahwa kesempatan mengikuti pendidikan kepemimpinan
merupakan bentuk kepercayaan pimpinan yang harus dijawab dengan komitmen dan
tanggung jawab.
“Pimpinan sangat
menaruh harapan besar kepada Anda semua yang hari ini dipanggil, dipilih untuk
mengikuti pendidikan ini,” katanya.
Harli berharap
para peserta PKA nantinya mampu menjadi pemimpin yang tidak hanya memahami
kebijakan, tetapi juga mampu memastikan kebijakan tersebut berjalan secara
efektif di lapangan.
Keberhasilan
organisasi, lanjutnya, salah satunya akan terlihat dari bagaimana para pemimpin
menerapkan gaya kepemimpinan yang adaptif, berintegritas, terbuka terhadap
perubahan dan berorientasi pada masa depan.
Ceramah tersebut
kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Para peserta diberikan kesempatan
menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi langsung dengan Kabadiklat terkait
berbagai tantangan kepemimpinan dan pelaksanaan tugas di lingkungan Kejaksaan.
“Saya menghendaki
alumni PKA menjadi pemimpin administrasi yang siap memimpin perubahan,
memperkuat organisasi, menjaga integritas, dan menjawab tantangan Kejaksaan di
era transformasi digital menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Harli. (Muzer)