News Update

Hasil Survei Median : MBG Jadi Program Yang Paling Disukai, TMI Aceh Tamiang Tegaskan MBG Hanya Perlu Evaluasi, Bukan Dihentikan

 



Aceh Tamiang, IMC - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik setelah hasil survei Median menempatkannya sebagai salah satu program pemerintah yang paling disukai dan paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Selasa (01/09)


Menanggapi hasil survei tersebut, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Aceh Tamiang menilai program MBG merupakan program strategis yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Karena itu, berbagai kekurangan dalam pelaksanaannya dinilai semestinya menjadi bahan evaluasi dan perbaikan, bukan menjadi alasan untuk menghentikan program.


Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Aceh Tamiang, M. Prawira Haji, menyayangkan adanya pihak-pihak yang mendorong agar program MBG dihentikan.


“Kita sangat menyayangkan kepada pihak-pihak yang menuntut MBG dihentikan. Padahal, seperti yang kita ketahui berdasarkan hasil survei Median, program MBG adalah salah satu program yang paling dirasakan oleh rakyat Indonesia,” ujar M. Prawira Haji.


Menurutnya, keberadaan MBG memiliki arti penting karena menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung, khususnya dalam pemenuhan asupan gizi bagi anak-anak dan kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program.


“Jadi saya pikir bahwa MBG ini penting untuk tetap dipertahankan keberlanjutannya. Program yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat harus kita dukung bersama,” katanya.


Meski demikian, Prawira Haji menegaskan bahwa dukungan terhadap keberlanjutan MBG bukan berarti menutup mata terhadap berbagai persoalan yang masih ditemukan dalam pelaksanaannya.


Ia mengakui bahwa program tersebut masih memiliki sejumlah kekurangan yang perlu segera dibenahi agar pelaksanaannya semakin efektif, tepat sasaran, transparan, serta mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan pemerintah.


“Meskipun kita harus mengakui bahwa MBG masih banyak terdapat kekurangan, tapi bukan harus diberhentikan. Kekurangan-kekurangan itu justru harus kita evaluasi dan diperbaiki pada bagian-bagian yang masih terdapat kesalahan,” tegasnya.


Perbaikan Harus Dilakukan Secara Berkelanjutan


TMI Aceh Tamiang juga menilai evaluasi merupakan bagian penting dari pelaksanaan sebuah program berskala nasional. Dengan cakupan MBG yang luas, berbagai persoalan teknis di lapangan dinilai sebagai sesuatu yang harus ditangani melalui perbaikan sistem dan pengawasan yang berkelanjutan.


Prawira Haji mengatakan, pemerintah perlu memastikan setiap tahapan pelaksanaan MBG berjalan sesuai standar, mulai dari penyediaan bahan pangan, pengolahan makanan, distribusi, kualitas dan kandungan gizi, hingga mekanisme pengawasan di lapangan.


“Yang perlu kita lakukan adalah memperbaiki apa yang masih kurang. Jangan karena ada persoalan dalam pelaksanaan kemudian programnya yang dihentikan. Kita evaluasi sistemnya, kita perbaiki pelaksanaannya, dan kita perkuat pengawasannya,” ujarnya.


Ia juga menilai bahwa pembenahan terhadap program MBG terus dilakukan oleh pemerintah, termasuk di bawah kepemimpinan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru.


“Kita juga harus mengakui bahwa di bawah kepemimpinan Kepala BGN yang baru ini, program MBG terus berbenah dari segala sisinya. Tentu proses perbaikan ini harus terus dikawal agar program semakin baik dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Prawira Haji.


TMI: MBG Harus Terus Diperbaiki


Lebih lanjut, DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Aceh Tamiang menilai perdebatan mengenai MBG sebaiknya diarahkan pada bagaimana memperbaiki kualitas program, bukan semata-mata pada wacana penghentian.


Menurut TMI, keberhasilan program nasional tidak hanya ditentukan oleh kebijakan di tingkat pusat, tetapi juga oleh kualitas implementasi di daerah. Oleh karena itu, masukan dari masyarakat, pemerintah daerah, pelaksana program, tenaga pendidik, orang tua, serta berbagai pihak terkait perlu menjadi bagian dari proses evaluasi.


“Kalau ada yang salah, kita koreksi. Kalau ada yang kurang, kita lengkapi. Kalau ada sistem yang belum berjalan maksimal, kita perbaiki. Intinya, MBG harus terus dievaluasi dan disempurnakan,” tutur Prawira.


Ia berharap seluruh pihak dapat melihat MBG secara objektif dengan membedakan antara persoalan dalam pelaksanaan dengan tujuan besar dari program tersebut.


“Kita harus mendukung program-program pemerintah yang berdampak langsung kepada masyarakat. Kritik tetap diperlukan, tetapi kritik tersebut hendaknya menjadi bagian dari upaya memperbaiki program, bukan justru menghentikan program yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat,” pungkasnya.


Dengan adanya hasil survei yang menunjukkan tingginya penerimaan masyarakat terhadap MBG, TMI Aceh Tamiang berharap pemerintah tetap melanjutkan program tersebut sembari memperkuat evaluasi, pengawasan, transparansi, dan kualitas pelaksanaannya di seluruh daerah.


Bagi TMI Aceh Tamiang, MBG bukan untuk dihentikan, melainkan untuk terus dievaluasi, diperbaiki, dan disempurnakan agar semakin tepat sasaran serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Indonesia.

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment