News Update

Siasat Redam Inflasi, BUMD Aceh Tamiang Didesak Buka Akses B2B dan Kelola Cold Storage

 


Aceh Tamiang, IMC – Momentum rekrutmen terbuka jajaran direksi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Aceh Tamiang pada 10–18 Agustus 2026 harus dijadikan batu pijakan untuk mereformasi total fungsi korporasi daerah. Pengisian jabatan strategis ini tidak boleh sekadar menjadi rutinitas birokrasi, melainkan wajib melahirkan jajaran direksi yang mampu membawa BUMD bertindak agresif sebagai penyeimbang pasar (market balancer).


Ekonom Muda Aceh Tamiang, Muhammad Jailani SE, menegaskan bahwa akar masalah inflasi 15 tahun terakhir (2011–2026) di Aceh Tamiang adalah lemahnya daya tawar daerah terhadap rantai pasok eksternal. Untuk memutus ketergantungan ini, Aceh Tamiang membutuhkan BUMD Ritel modern yang memiliki kapasitas hukum dan bisnis untuk mengakses langsung BUMD produsen pangan di daerah lain serta perusahaan pabrikan besar (principal).


Belajar dari Rekor Inflasi: Pasar Murah Saja Tidak Cukup


Menurut analisis Jailani, fluktuasi indeks harga konsumen (IHK) di Aceh Tamiang sangat ekstrem. Berdasarkan data historis, pada Januari 2026 inflasi lokal sempat melonjak hingga 7,59 persen, lalu berhasil diredam ke 3,82 persen pada April, namun kembali melonjak ke 5,69 persen pada Mei akibat disrupsi logistik pascabanjir."


Pola naik-turun yang liar selama 15 tahun ini membuktikan bahwa intervensi temporer seperti 'Pasar Murah' berbasis APBD dinas terkait sudah usang. Solusinya adalah BUMD harus hadir sebagai market balancer permanen. Artinya, BUMD masuk ke pasar setiap hari, menjadi penentu harga wajar (price leader), dan meredam spekulasi harga yang sering mempermainkan pedagang kecil dan konsumen," ujar Muhammad Jailani di Kualasimpang, Senin (10/08).


Strategi Akses B2B Antar-BUMD dan Infrastruktur Cold Storage


Jailani menjelaskan, kunci utama agar BUMD mampu menjadi market balancer yang tangguh adalah kemampuan membangun jaringan pasokan langsung ke sumber pertama (direct sourcing), baik melalui kerja sama antar-daerah (Business-to-Business / B2B) maupun konglomerasi pangan.


"BUMD Aceh Tamiang tidak boleh lagi membeli barang dari tangan ketiga atau keempat. Direksi baru harus mampu mengetuk pintu BUMD-BUMD produsen di wilayah Jawa atau Sumatera Utara, serta langsung menembus korporasi produsen minyak goreng, tepung, dan gula nasional. Dengan memotong komisi broker, BUMD kita bisa mendapatkan harga dasar pabrik," papar Jailani.


Guna mengamankan pasokan murah tersebut, Jailani menambahkan bahwa BUMD wajib mengelola infrastruktur hilir berupa gudang pendingin (cold storage) pangan. Fasilitas ini berfungsi menampung hasil panen melimpah dari petani lokal yang bertindak sebagai offtaker (pembeli siaga) sekaligus menyimpan stok komoditas basah (seperti cabai dan bawang) dari luar daerah, sehingga pasokan tetap aman saat jalur transportasi lumpuh akibat banjir.


Bukti Empiris: Contoh Keberhasilan BUMD di Daerah Lain


Muhammad Jailani memaparkan bahwa konsep BUMD sebagai market balancer terintegrasi ini bukanlah teori belaka, melainkan sudah terbukti sukses menaklukkan inflasi di berbagai daerah di Indonesia:

1. PT Food Station Tjipinang Jaya (DKI Jakarta): BUMD ini sukses mengendalikan inflasi beras Jakarta dengan cara mengikat kerja sama (offtaker) langsung dengan gapoktan di berbagai daerah produsen (seperti Cilacap dan Subang). Mereka menyimpan stok di gudang modern dan menyalurkannya langsung ke pasar ritel untuk menstabilkan harga nasional.

2. ⁠Perumda Pasar Jaya (DKI Jakarta) dengan 'Jakmart': Berhasil memotong rantai distribusi sembako dengan mendirikan jaringan ritel sendiri. Jakmart membeli barang langsung dari produsen besar dalam skala masif, lalu menjualnya dengan margin sangat tipis ke pedagang tradisional, sehingga harga eceran di pasar tetap terjaga.

3. ⁠PT Taru Martani (DI Yogyakarta): Mengubah arah bisnis dari sekadar industri tembakau menjadi BUMD aneka usaha yang memproduksi dan mengedarkan minyak goreng murah secara ritel di saat terjadi kelangkaan nasional, efektif mengintervensi lonjakan inflasi daerah setempat.


Tantangan Terbuka bagi Calon Direksi BUMD


Menutup pernyataannya, Jailani meminta Panitia Seleksi (Pansel) untuk mencoret calon direksi yang hanya membawa rencana bisnis konvensional dan berorientasi pada pencarian laba semata tanpa kepekaan sosial."


Aceh Tamiang kaya akan SDA, namun miskin dalam kedaulatan harga pasar. Siapa pun yang terpilih memimpin PT Rebong Permai Jaya atau entitas BUMD lainnya minggu depan, mereka harus memiliki visi makroekonomi ini. Masuk ke sektor ritel pangan, bangun cold storage, kunci kontrak dengan produsen besar, dan jadilah perisai pelindung daya beli rakyat Aceh Tamiang," tegas Jailani.

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment