News Update

Public Discussion #2 FISIP HI Jayabaya “Persaingan Ekonomi Global: Rivalitas Antara Negara-Negara Besar dalam Sistem Internasional Kontemporer”


Foto : Dr. Ichsanuddin Noorsy, B.Sc., S.H., M.Si. bersama Dekan FISIP Universitas Jayabaya Drs. Denny Ramdhani M.Si., dan Mahasiswa
 

Dr. Ichsanuddin Noorsy, B.Sc., S.H., M.Si.


Persaingan Ekonomi Global: Ketika Kekuatan Negara Diperebutkan melalui Pasar

Jakarta, IMC -  Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) Universitas Jayabaya kembali menyelenggarakan kegiatan Public Discussion #2 dengan tema “Persaingan Ekonomi Global: Rivalitas Antara Negara-Negara Besar dalam Sistem Internasional Kontemporer.” Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Seminar I, Lantai 5, Gedung Rektorat Kampus A Universitas Jayabaya, Hari Rabu 15 Juli 2026.

Diskusi menghadirkan Dr. Ichsanuddin Noorsy, B.Sc., S.H., M.Si. sebagai narasumber dan Alfian Handerson sebagai moderator. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Dekan FISIP Universitas Jayabaya Drs. Denny Ramdhani M.Si., jajaran dosen, serta mahasiswa yang mengikuti jalannya diskusi dengan antusias.

Dalam pemaparannya, Dr. Ichsanuddin Noorsy menjelaskan bahwa persaingan ekonomi global tidak hanya berkaitan dengan perdagangan, investasi, atau pertumbuhan ekonomi. Di balik hubungan ekonomi antarnegara terdapat persaingan untuk memperoleh pengaruh, menguasai sumber daya, dan menentukan arah sistem internasional.

Pembahasan diawali dengan sejarah sistem Bretton Woods yang dibentuk setelah Perang Dunia II. Sistem tersebut menempatkan dolar Amerika Serikat sebagai salah satu mata uang utama dalam perekonomian dunia. Ketika dolar tidak lagi dikaitkan secara langsung dengan emas, kekuatan mata uang tersebut semakin bergantung pada kepercayaan masyarakat dan negara-negara terhadap sistem ekonomi Amerika Serikat.

Menurut Noorsy, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian dunia tidak dapat dipisahkan dari kekuatan politik. Negara yang memiliki pengaruh besar terhadap sistem moneter dan lembaga ekonomi internasional juga mempunyai posisi yang lebih kuat dalam menentukan kebijakan global.

Setelah berakhirnya Perang Dingin, Amerika Serikat muncul sebagai kekuatan utama dalam sistem internasional. Globalisasi kemudian berkembang semakin cepat dan mendorong negara-negara menjadi lebih terhubung melalui perdagangan, teknologi, investasi, dan keuangan. Namun, ketergantungan tersebut juga membuat krisis yang terjadi di satu negara dapat memberikan dampak besar kepada negara lainnya.

Indonesia menjadi salah satu contoh negara yang pernah merasakan kuatnya pengaruh sistem ekonomi global, terutama ketika menghadapi krisis pada akhir 1990-an. Krisis tersebut tidak hanya disebabkan oleh persoalan domestik, tetapi juga berhubungan dengan struktur keuangan internasional dan ketergantungan terhadap sistem yang didominasi oleh negara-negara besar.

Diskusi kemudian membahas munculnya Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi baru yang menantang dominasi Amerika Serikat. Persaingan antara kedua negara tidak selalu berlangsung dalam bentuk konflik militer, tetapi juga melalui kebijakan perdagangan, teknologi, energi, penguasaan sumber daya strategis, dan pengaruh terhadap pasar internasional.

Kenaikan harga minyak dunia pada 2008 turut menjadi contoh bahwa energi dapat digunakan sebagai instrumen geoekonomi. Harga minyak tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran, tetapi juga oleh kepentingan politik dan strategi negara-negara penghasil maupun pengguna energi.

Dr. Ichsanuddin Noorsy juga memperkenalkan gagasan competitive coexistence, yaitu keadaan ketika negara-negara tetap hidup berdampingan dan melakukan kerja sama, tetapi pada saat yang sama terus bersaing untuk mempertahankan kepentingan nasionalnya. Dalam kondisi tersebut, kerja sama ekonomi tidak selalu menghilangkan rivalitas, melainkan dapat menjadi bagian dari strategi persaingan itu sendiri.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Hubungan Internasional diajak untuk memahami bahwa angka perdagangan, nilai mata uang, harga energi, dan kebijakan pasar tidak berdiri sendiri. Seluruhnya berkaitan erat dengan distribusi kekuasaan, kepentingan negara, serta perubahan tatanan internasional.

Public Discussion #2 memberikan pemahaman bahwa ekonomi telah menjadi salah satu arena utama dalam persaingan kekuatan global. Oleh karena itu, mahasiswa perlu melihat persoalan ekonomi bukan hanya melalui keuntungan dan kerugian perdagangan, tetapi juga melalui kepentingan politik serta kekuasaan yang berada di baliknya. (Liputan oleh : Romanza Ambri Budi Cahyono, Mahasiswa FISIP HI Jayabaya)

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment