Jerit Antrean Di Aceh Tamiang: Katanya Minyak Ada,Kenapa SPBU Kosong Melompong dan Rakyat Dikorbankan?
Aceh Tamiang, IMC - Pertanyaan besar hari ini berkecamuk di tengah masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang: Jika memang pasokan minyak itu ada, mengapa rakyat harus mengantre berjam-jam seperti pengemis di tanah sendiri?
Fakta di lapangan menjawab ironi ini dengan sangat brutal. Berdasarkan hasil monitoring menyeluruh pada Jumat, 10 Juli 2026, kondisi di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Kabupaten Aceh Tamiang berada pada titik kritis. Narasi ketersediaan BBM berbanding terbalik 180 derajat dengan realitas di SPBU yang mayoritas berstatus HABIS Total. Rakyat tidak hanya mengantre untuk membeli, mereka mengantre untuk ketidakpastian di depan pompa bensin yang kosong.
Fakta Kelumpuhan Stok di Seluruh SPBU Aceh Tamiang
Monitoring yang dilakukan sejak pukul 11.00 WIB membongkar data mengerikan mengenai kekosongan stok BBM di 7 SPBU utama Aceh Tamiang:
SPBU Pertamina Samudera Jaya (No. 14.244.434), Tanah Terban, Karang Baru: Pertalite, Bio Solar, Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex seluruhnya HABIS.
SPBU Pertamina Greisa Utama (No. 13.244.403), Landuh, Rantau: Pertalite, Pertamax, dan Dexlite HABIS.
SPBU Dua Dara (No. 14.244.456), Seuneubok Baroe, Manyak Payed: Pertalite, Pertamax, Pertamina Dex, dan Bio Solar HABIS.
SPBU Alur Bemban (No. 14.244.497), Karang Baru: Pertalite, Bio Solar, Pertamax, dan Pertamina Dex HABIS.
SPBU PT. Greisa Utama (No. 15.244.074), Alur Manis, Rantau: Pertalite, Bio Solar, Pertamax, dan Dexlite HABIS.
SPBU PT. Samudera Jaya Bersaudara (No. 14.244.430), Bukit Rata, Kejuruan Muda: Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Bio Solar HABIS.
SPBU PT. Putra Tamiang (No. 14.244.475), Semadam, Kejuruan Muda: Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Bio Solar HABIS.
Kondisi ini memicu antrean kendaraan yang mengular panjang dan macet total sejak pukul 11.00 WIB hingga sore hari pukul 15.45 WIB. Ironisnya, meski papan pengumuman SPBU sudah menunjukkan bahwa BBM telah habis dan kosong, antrean kendaraan tetap bertahan karena masyarakat tidak memiliki pilihan lain untuk mobilitas ekonomi mereka.
Akar Masalah: Bobroknya Distribusi PT Elnusa Petrofin
Kelangkaan akut ini bukan terjadi karena bencana alam, melainkan akibat kegagalan struktural dan manajemen distribusi. Suplai dari Terminal BBM Belawan, Sumatera Utara, mengalami keterlambatan parah yang dikelola oleh PT Elnusa Petrofin.
Keterlambatan ini dipicu oleh kebijakan internal mereka sendiri, yakni restrukturisasi berupa pengurangan tenaga kerja lama dan perekrutan tenaga kerja baru. Dampaknya fatal: tenaga kerja baru yang belum menguasai medan, prosedur, serta mekanisme pendistribusian gagal menjalankan tugasnya dengan becus.
Akibat ketidakkompetenan ini, terjadi pemangkasan suplai yang sangat drastis ke wilayah Aceh Tamiang. Permintaan resmi pihak SPBU yang biasanya mencapai 24.000 liter per pengiriman, kini dipangkas habis-habisan dan hanya terealisasi sebesar 8.000 liter saja per pengiriman. Pengurangan sebesar 66% ini jelas membuat stok di SPBU langsung ludes dalam hitungan jam, memicu kepanikan warga (panic buying), dan melumpuhkan aktivitas transportasi.
Beban Rakyat Double: Harga Naik Gila-gilaan, Barang Malah Langka
Situasi ini menjadi tamparan keras bagi masyarakat Aceh Tamiang. Belum kering luka masyarakat akibat rentetan kenaikan harga BBM Non-subsidi yang melonjak ugal-ugalan dalam beberapa bulan terakhir, kini mereka dipaksa menghadapi kelangkaan barang.
Rakyat sudah dipaksa membayar lebih mahal untuk BBM, namun hak mereka untuk mendapatkan akses energi justru dirampas oleh rantai distribusi yang tidak profesional. PT Elnusa Petrofin dan Pertamina tidak boleh berlindung di balik kata "restrukturisasi" sementara roda ekonomi Kabupaten Aceh Tamiang lumpuh total akibat kelalaian ini.
Pemerintah daerah, aparat berwenang, dan Pertamina pusat harus segera turun tangan. Segera evaluasi kinerja PT Elnusa Petrofin, kembalikan kuota normal pasokan 24.000 liter per pengiriman, dan hentikan penderitaan rakyat Aceh Tamiang yang harus mengorbankan waktu kerja mereka hanya untuk mengantre minyak yang "katanya ada" tetapi nyatanya gaib di lapangan!
Sebagai catatan, gelombang kenaikan harga telah mencekik konsumen melalui penyesuaian tarif berikut:
Per 18 April 2026: Pertamax Turbo meroket dari Rp13.350/liter menjadi Rp19.850/liter (Naik Rp6.500); Pertamina Dex melompat dari Rp14.800/liter menjadi Rp24.450/liter (Naik Rp9.650); Dexlite naik dari Rp14.500/liter menjadi Rp24.150/liter (Naik Rp9.650).
Per 10 Juni 2026: Pertamax ikut dinaikkan dari Rp12.600/liter menjadi Rp16.650/liter (Naik Rp4.050).

