Dilema Pendidikan vs Lapangan Hijau: Kick-off Piala Soeratin U-17 Aceh Langsung Dihujani Kritik
Bireuen, IMC - Kompetisi sepak bola usia muda paling bergengsi di Serambi Mekah, Piala Soeratin PSSI Aceh 2026 untuk kategori Usia 17 (U-17), resmi bergulir hari ini, Senin (13/07), di Kabupaten Bireuen. Sebanyak 14 Sekolah Sepak Bola (SSB) dari seluruh penjuru Aceh siap adu strategi yang terbagi ke dalam empat pool.
Berdasarkan keputusan rapat manajer (manager meeting), Asprov PSSI Aceh memutuskan memisahkan pelaksanaan kompetisi berdasarkan kelompok umur demi efektivitas penyelenggaraan. Setelah kategori U-17 di Bireuen, Piala Soeratin U-15 dijadwalkan menyusul pada 10 Agustus 2026, disusul kategori U-13 pada 23 Agustus 2026. Lokasi stadion untuk kedua kelompok umur terakhir tersebut masih menunggu surat edaran resmi.
Namun, di balik peluit pertama yang ditiup, gelaran ini langsung mendapat sorotan dan kritik tajam dari pelaku serta pengamat olahraga di Aceh.
Kritik keras datang dari tokoh sekaligus pelaku olahraga Aceh, Saiful Alam. Pria yang dinobatkan sebagai wartawan olahraga terbaik tahun 2025 ini mempertanyakan sensitivitas dan akurasi perencanaan jadwal oleh pihak penyelenggara. PSSI Aceh dinilai abai terhadap kondisi psikologis dan kewajiban akademis para pemain yang notabene masih berstatus pelajar.
"Ini catatan merah untuk manajemen kompetisi PSSI Aceh. Mengapa turnamen usia muda sebesar Piala Soeratin justru dipaksakan bergulir tepat saat anak-anak mulai memasuki hari pertama tahun ajaran baru sekolah? Mengapa tidak memanfaatkan momentum libur panjang sekolah beberapa waktu lalu?" cetus Saiful Alam.
Menurutnya, bentrokan jadwal ini menempatkan para pemain muda pada posisi dilematis yang tidak adil. Di satu sisi mereka harus fokus beradaptasi dengan lingkungan sekolah atau kelas yang baru, namun di sisi lain fisik mereka dipompa habis-habisan di lapangan hijau. PSSI Aceh dituntut untuk tidak hanya mengejar target teknis pertandingan, melainkan juga memikirkan masa depan pendidikan para atlet muda demi asas fair play yang sesungguhnya.
Di tengah polemik jadwal tersebut, tim tangguh SSB Muda Sedia U-17 harus langsung dihadapkan pada ujian berat. Hari ini, mereka dijadwalkan menantang ketangguhan tim tuan rumah, SSB Juang Bireuen. Ujian konsistensi anak-anak Muda Sedia akan langsung berlanjut pada Rabu (15/07) mendatang saat ditantang oleh SSB Persada Aceh Barat Daya (Abdya).
Terkait teknis di lapangan, regulasi mengenai akumulasi kartu yang sempat dipertanyakan para manajer tim dipastikan baru akan dikupas secara spesifik oleh pengawas pertandingan (match commissioner) pada sesi technical meeting menjelang laga.
Saiful Alam menegaskan bahwa esensi dari fair play tidak hanya berlaku di atas lapangan selama 2x45 menit, melainkan sejak regulasi dan kalender kompetisi dirumuskan. Pihak penyelenggara didorong untuk bersikap transparan dan memastikan kepemimpinan wasit serta perangkat pertandingan berjalan jujur tanpa intervensi pihak mana pun.
"Kita mendukung penuh pembinaan usia muda, tetapi pelaksanaannya harus benar-benar fair play. Manajemen kompetisi yang matang, ramah terhadap dunia pendidikan anak, dan netralitas perangkat pertandingan adalah harga mati demi melahirkan talenta emas sepak bola Aceh," pungkasnya.
