OPINI: Menolak "Revitalisasi" yang Menyandera Pendidikan Aceh Tamiang
Aceh Tamiang, IMC - Bagi dunia pendidikan, kata revitalisasi seharusnya menjadi angin segar. Di atas kertas, kata ini menjanjikan ruang kelas yang kokoh, fasilitas yang modern, dan lingkungan belajar yang memanusiakan manusia. Namun, di beberapa sudut Aceh Tamiang, kata ini justru berubah menjadi momok yang menakutkan sebuah proyek tanpa akhir yang berpotensi menyandera masa depan generasi muda.
Ketika sebuah sekolah terjebak dalam pusaran pembangunan fisik yang tak kunjung usai, esensi dari pendidikan itu sendiri sedang dipertaruhkan.
Bayangkan anak-anak yang harus belajar di tengah deru mesin, hantaman palu, dan debu semen. Sekolah yang sejatinya menjadi ruang aman dan nyaman untuk mentransfer ilmu, dipaksa berubah fungsi menjadi situs konstruksi.
Pembangunan fisik yang memakan waktu lama membawa dampak buruk yang nyata:
Hilangnya Fokus Belajar: Suara bising dari proyek pembangunan merusak konsentrasi siswa. Bagaimana mungkin anak-anak bisa mencerna pelajaran dengan baik jika ketenangan mereka dirampas setiap hari?
Ruang Gerak yang Terpasung: Lapangan sekolah yang harusnya menjadi tempat upacara, berolahraga, dan bermain, beralih fungsi menjadi gudang material. Hak anak-anak untuk bergerak bebas menjadi terenggut.
Ancaman Keselamatan: Menempatkan anak-anak di lingkungan proyek yang penuh dengan besi, semen, dan alat berat adalah bentuk kelalaian keselamatan yang nyata.
Revitalisasi menjadi "tidak diinginkan" ketika prosesnya justru merusak apa yang sudah berjalan baik. Pihak sekolah sering kali berada di posisi dilematis. Menolak proyek fisik dianggap tidak kooperatif terhadap pembangunan daerah, namun menerima proyek berarti harus siap menghadapi ketidaknyamanan tanpa kepastian kapan semua itu akan selesai.
Pendidikan bukan sekadar tentang kemegahan dinding beton atau indahnya fasad gerbang sekolah. Jantung dari pendidikan adalah proses belajar-mengajar yang kondusif. Ketika estetika fisik dikejar dengan mengorbankan ketenangan psikologis siswa dan guru, maka ada yang salah dengan skala prioritas para pengambil kebijakan.
Kerugian akademis dan mental yang dialami siswa selama belajar di sekolah yang "porak-poranda" oleh proyek tidak akan pernah bisa digantikan oleh megahnya gedung baru saat mereka sudah lulus nanti.
Buruknya perencanaan dan pengawasan sering kali menjadi akar mengapa proyek sekolah berjalan lambat. Dinas Pendidikan dan pemangku kebijakan di Bumi Muda Sedia tidak boleh menutup mata. Jangan biarkan sekolah menjadi komoditas proyek tahunan yang mengorbankan kenyamanan siswa.
Masyarakat Aceh Tamiang, terutama para orang tua, berhak menuntut transparansi dan ketegasan. Jika pemerintah ingin melakukan revitalisasi, lakukanlah dengan perencanaan yang matang, cepat, dan tidak mengorbankan kegiatan belajar. Jika tidak, "revitalisasi" ini tak lebih dari sekadar proyek fisik yang megah di luar, namun keropos di dalam.
Sebelum gedung-gedung beton itu selesai dibangun, jangan sampai mental dan semangat belajar anak-anak kita justru sudah terlanjur runtuh.
