Harga Material Bangunan Melonjak, Program Rehab-Rekon Korban Bencana di Aceh Tamiang Terancam Terhambat
Aceh Tamiang, IMC – Lonjakan harga material bangunan dalam beberapa pekan terakhir memicu keluhan massal di Kabupaten Aceh Tamiang. Kenaikan drastis ini dinilai membebani proyek fisik di daerah, terutama program rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) rumah bagi korban bencana hidrometeorologi.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Senin (29/06), harga semen dilaporkan telah menembus angka Rp75.000 hingga Rp80.000 per sak. Tidak hanya semen, komoditas penting lain seperti besi, seng, dan sejumlah material pokok juga terus merangkak naik. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa kualitas bangunan bantuan akan merosot, atau bahkan pembangunannya mangkrak akibat anggaran yang tidak lagi mencukupi.
Menyikapi fenomena ini, Ketua Komisi II DPRK Aceh Tamiang, Sarhadi, menegaskan bahwa situasi ini harus menjadi atensi prioritas pemerintah daerah. Menurutnya, masyarakat penerima bantuan merupakan kelompok yang paling rapuh dan dirugikan.
"Kenaikan harga material saat ini terasa sangat kurang wajar. Jangan sampai masyarakat penerima bantuan menjadi korban karena anggaran rehabilitasi rumah mereka habis tergerus oleh lonjakan harga di pasar," ujar Sarhadi tegas.
Lebih lanjut, Sarhadi menyoroti fungsi kontrol pemerintah yang dinilai lemah. Ia mendesak Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Aceh Tamiang segera turun ke lapangan. Publik kini mempertanyakan sejauh mana pengawasan dinas terkait hingga harga di pasar bisa lolos tanpa kendali.
"Diskoperindag harus segera melakukan inspeksi dadakan (sidak) dan memantau rantai pasok material ini. Jika ditemukan indikasi permainan harga, penimbunan, atau praktik spekulasi, pemerintah harus berani mengambil tindakan hukum yang tegas," tambahnya.
Di sisi lain, masyarakat terdampak berharap ada intervensi kebijakan yang berpihak pada mereka. Muncul desakan dari warga agar pelaksanaan proyek fisik sementara waktu ditunda jika lonjakan ini murni akibat permainan mafia pasar, setidaknya sampai harga kembali normal.
"Kami tidak ingin masyarakat penerima bantuan justru menanggung beban baru. Pemerintah daerah harus hadir secara nyata, bukan pasif. Pastikan harga material terkendali agar program rehab-rekon pascabencana berjalan efektif tanpa mengorbankan kualitas bangunan," pungkas seorang perwakilan warga.
Masyarakat Aceh Tamiang kini menunggu langkah konkret dan cepat dari Diskoperindag untuk menertibkan harga material demi menyelamatkan nasib para korban bencana yang sedang membangun kembali hidup mereka.
Hingga berita ini ditayangkan, jurnalis indonesiamediacenter.com telah berupaya melakukan konfirmasi kepada Kepala Diskoperindag Kabupaten Aceh Tamiang, Ibnu Azis, SKM, MKM. Upaya konfirmasi dilakukan melalui pesan singkat maupun panggilan telepon guna meminta klarifikasi terkait pengawasan harga pasar tersebut. Namun, hingga saat ini belum ada respons atau tanggapan resmi dari pihak dinas terkait.
