Trump Terbang ke Beijing, Para CEO Raksasa Amerika Ikut Serta dan Bos Nvidia Menyusul Mendadak dari Alaska
Jakarta IMC Indonesia- Sebuah pemandangan langka
terjadi di Joint Base Andrews, Maryland. Presiden Amerika Serikat Donald Trump
menaiki Air Force One untuk terbang menuju Beijing, China, dalam rangka
pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Xi Jinping, Selasa
(12/5/2026)
Kunjungan
ini menjadi sorotan dunia karena merupakan kunjungan kenegaraan pertama
Presiden AS ke China dalam hampir sembilan tahun, sejak Trump terakhir kali
menginjakkan kaki di Beijing pada November 2017.
Namun,
bukan hanya agenda diplomatik yang membuat penerbangan tersebut mencuri
perhatian publik internasional. Perjalanan ini berubah menjadi peristiwa besar
karena Trump tidak berangkat sendirian, melainkan membawa rombongan yang diisi
oleh para CEO perusahaan paling berpengaruh di Amerika Serikat.
Daftar
CEO yang Ikut Air Force One: Teknologi hingga Keuangan
Gedung
Putih merilis daftar resmi para eksekutif yang ikut dalam delegasi ke Beijing.
Nama-nama tersebut mencakup tokoh utama di berbagai sektor strategis, mulai
dari teknologi, industri penerbangan, investasi, hingga semikonduktor.
Beberapa
di antaranya adalah Elon Musk (Tesla), Tim Cook (Apple), Larry Fink
(BlackRock), Kelly Ortberg (Boeing), Jane Fraser (Citigroup), hingga David
Solomon (Goldman Sachs).
Tak
hanya itu, delegasi juga mencakup pimpinan perusahaan global seperti Visa,
Mastercard, Qualcomm, Micron, Cargill, Blackstone, GE Aerospace, serta
Illumina.
Komposisi
delegasi ini menunjukkan bahwa kunjungan Trump ke Beijing bukan sekadar
diplomasi politik, tetapi juga merupakan misi ekonomi besar yang menyasar
hampir seluruh sektor vital dalam hubungan dagang AS–China.
Kejutan
Menit Terakhir: Jensen Huang Menyusul dari Alaska
Yang
paling mengejutkan dunia bisnis global terjadi di luar daftar resmi.
Jensen
Huang, CEO Nvidia, awalnya tidak tercantum sebagai bagian dari delegasi.
Ketidakhadirannya langsung memicu spekulasi media internasional, mengingat
Nvidia adalah pemain utama dalam industri chip kecerdasan buatan yang saat ini
menjadi tulang punggung revolusi AI global.
Dalam
perkembangan yang tidak terduga, Trump dikabarkan menghubungi Huang secara
langsung dan meminta CEO Nvidia itu untuk ikut bergabung. Huang kemudian
terbang menuju Alaska, tempat Air Force One sempat singgah, sebelum akhirnya
naik dan ikut dalam perjalanan menuju Beijing.
Dengan
langkah itu, Nvidia, perusahaan yang kini memegang peranan penting dalam peta
kekuatan teknologi dunia resmi menjadi bagian dari delegasi yang disebut-sebut
sebagai salah satu rombongan bisnis terbesar dalam sejarah perjalanan
diplomatik Amerika Serikat.
Satu
Nama Absen: CEO Cisco Tak Bisa Ikut
Meski
delegasi terbilang penuh bintang, satu tokoh besar tidak dapat hadir.
Chuck
Robbins, CEO Cisco, disebut telah menerima undangan, namun batal ikut karena
perusahaan dijadwalkan merilis laporan pendapatan dalam minggu yang sama.
Trump
dan Xi Bertemu 14–15 Mei: Agenda Dagang dan Investasi Mengemuka
Pertemuan
puncak antara Trump dan Xi dijadwalkan berlangsung pada 14 dan 15 Mei 2026 di
Beijing. Ini menjadi pertemuan resmi pertama keduanya sejak pertemuan
sebelumnya di Busan, Korea Selatan, pada sela-sela KTT APEC 30 Oktober 2025.
Kunjungan
ini sebenarnya direncanakan berlangsung pada awal April, tetapi harus ditunda
akibat pecahnya konflik Iran yang dimulai pada akhir Februari 2026.
Dalam
agenda pertemuan, Washington diperkirakan akan mendorong China untuk
meningkatkan pembelian produk-produk Amerika, termasuk pesawat Boeing, daging
sapi, dan kedelai. Bahkan, terdapat pembahasan mengenai potensi pembelian
hingga 500 unit pesawat Boeing oleh China serta komitmen lanjutan impor produk
pertanian Amerika.
Selain
itu, pertemuan juga diperkirakan akan memuat pengumuman pembentukan Board of
Trade dan Board of Investment, dua badan kerja sama yang telah disiapkan dalam
pembicaraan teknis sebelumnya.
Isu
Mineral Tanah Jarang Jadi Titik Panas
Salah
satu isu paling sensitif yang menjadi perhatian dunia adalah soal mineral tanah
jarang.
China
diketahui menguasai sekitar 90 persen pengilangan mineral tanah jarang global,
bahan yang sangat krusial untuk semikonduktor, kendaraan listrik, industri
militer, hingga elektronik modern.
Beijing
sebelumnya memperketat kontrol ekspor mineral ini sebagai respons terhadap
tekanan tarif AS. Dampaknya, sektor otomotif dan dirgantara Amerika disebut
mulai mengalami gangguan pasokan.
Bayang-Bayang
Perang Iran dan Selat Hormuz
Di
balik seluruh agenda ekonomi tersebut, terdapat isu geopolitik besar yang ikut
membayangi pembicaraan: perang Iran dan krisis Selat Hormuz.
Para
analis memperkirakan Trump akan meminta Xi untuk menggunakan pengaruhnya
terhadap Teheran, mengingat China merupakan pembeli terbesar minyak Iran,
dengan menyerap lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran.
Pengamat
Ingatkan: Jangan Terlalu Optimistis
Meski
kunjungan ini terlihat monumental, sejumlah pengamat menilai publik tidak perlu
terlalu cepat berharap hasil besar.
Council
on Foreign Relations mencatat bahwa pada kunjungan Trump ke Beijing tahun 2017,
China sempat mengumumkan kesepakatan bisnis senilai US$250 miliar, termasuk nota
kesepahaman senilai US$83,7 miliar untuk West Virginia, angka yang bahkan
melebihi PDB negara bagian tersebut, namun sebagian besar kesepakatan itu tidak
pernah terealisasi.
Delegasi
Super Besar, Sinyal Serius Dunia Sedang Berubah
Meski
hasil pertemuan masih belum diketahui, satu hal sudah jelas: jarang dalam
sejarah hubungan Amerika Serikat dan China, sebuah pertemuan puncak diiringi
oleh deretan tokoh bisnis global dengan pengaruh sebesar ini, bahkan berada
dalam satu penerbangan yang sama.
Kehadiran
para CEO dari berbagai sektor vital menegaskan bahwa pertemuan Trump–Xi kali
ini bukan hanya tentang politik, tetapi tentang perebutan arah ekonomi dunia,
masa depan teknologi, rantai pasok global, serta stabilitas geopolitik
internasional. (rsh/red.)
#DPU_FYI
#TrumpXiSummit #HubunganASChina #GeopolitikGlobal #PerdaganganDunia
