Pesan Menyentuh di Idul Adha Badiklat Kejaksaan RI: “Anak Butuh Kehadiran, Bukan Sekadar Nafkah”

Ribuan Jamaah Padati Sholat Idul Adha di Lapangan Badiklat Kejaksaan RI
JAKARTA, IMC — Suasana khidmat
dan penuh kekeluargaan menyelimuti pelaksanaan Sholat Idul Adha 1447 Hijriah di
Masjid Al Hukama Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Kejaksaan RI, Rabu
(28/5/2026). Ribuan jamaah memadati lapangan kompleks Badiklat sejak pagi hari
untuk mengikuti ibadah sholat id yang dimulai pukul 06.30 WIB tersebut.
Sholat Idul Adha diikuti oleh pegawai Badiklat Kejaksaan RI, warga
kompleks, peserta Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ) Angkatan 83
Gelombang I, hingga masyarakat sekitar. Momentum hari raya kurban itu
berlangsung hangat dan sarat makna, terlebih dengan khutbah yang menyentuh
persoalan kehidupan keluarga dan pendidikan anak di era modern.
Bertindak sebagai imam dalam pelaksanaan sholat adalah Wildan Alwi,
sementara khutbah Idul Adha disampaikan oleh Dr. Firman Arifandi.
Dalam khutbahnya, Dr. Firman Arifandi mengajak jamaah meneladani
perjuangan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, khususnya tentang makna cinta,
pengorbanan, kedekatan orang tua dengan anak, serta pentingnya menghadirkan
kasih sayang dalam keluarga.
Menurutnya, ada sesuatu yang harus ditempatkan lebih besar daripada
seluruh urusan duniawi, yakni kecintaan kepada Allah SWT.
“Yang harus lebih besar daripada segala hal dalam hidup kita, lebih
besar daripada harta, lebih besar daripada jabatan, lebih besar daripada
kesibukan, bahkan lebih besar daripada kecintaan kita kepada diri kita
sendiri,” ujar Dr. Firman di hadapan jamaah.
Ia menggambarkan bahwa setiap orang datang ke pelaksanaan Idul Adha
dengan kondisi yang berbeda-beda. Ada yang hadir dengan rasa syukur, ada pula
yang membawa beban kehidupan, memikirkan pekerjaan, keluarga, masa depan
anak-anak, hingga orang tua yang sedang sakit.
Namun, menurutnya, Idul Adha mengajarkan manusia untuk kembali melihat
bagaimana beratnya ujian yang pernah dihadapi Nabi Ibrahim AS.
“Nabi Ibrahim pernah diuji dengan ujian yang jauh lebih berat daripada
yang mungkin kita hadapi hari ini,” katanya.
Ia mengisahkan bagaimana Nabi Ibrahim menunggu puluhan tahun untuk
hadirnya seorang anak, hingga akhirnya Allah SWT mengaruniakan Nabi Ismail AS.
Namun ketika rasa cinta itu tumbuh begitu besar, datang perintah Allah SWT yang
sangat berat, yakni perintah untuk menyembelih putranya sendiri.
Dalam penjelasannya, Dr. Firman menyoroti ayat yang menggambarkan
kedekatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika keduanya berjalan dan berusaha
bersama. Menurutnya, kedekatan emosional itulah yang menjadi kunci keberhasilan
pendidikan dalam keluarga.
“Anak yang dekat dengan orang tuanya akan lebih mudah menerima nilai
yang diajarkan kepadanya,” ujarnya.
Ia kemudian menyinggung realitas kehidupan modern, di mana banyak orang
tua bekerja keras demi keluarga, tetapi tanpa sadar kehilangan waktu bersama
anak-anaknya.
“Kita hadir dalam bentuk uang, tetapi tidak hadir dalam bentuk
perhatian. Anak-anak kita tinggal serumah, tetapi hatinya tinggal di tempat
lain,” tutur khatib.
Menurutnya, banyak anak sejatinya hanya membutuhkan perhatian sederhana
dari orang tuanya.
“Kadang yang mereka butuhkan hanyalah, ‘Ayah lihat aku sebentar. Ayah
dengarkan ceritaku sebentar. Ayah temani aku ngobrol sebentar’,” ucapnya.
Dr. Firman juga menekankan bahwa Nabi Ibrahim AS memberikan teladan
tentang pola asuh yang penuh kelembutan dan dialog. Ia menjelaskan bahwa Nabi
Ibrahim tidak langsung memerintah Nabi Ismail, tetapi mengajak berdiskusi
dengan penuh kasih sayang.
Dalam bahasa Arab, lanjutnya, terdapat beberapa bentuk panggilan kepada
anak, seperti “Ya Ibni”, “Ya Waladi”, dan “Ya Bunayya”. Para nabi, kata dia,
lebih memilih menggunakan panggilan “Ya Bunayya” yang bermakna panggilan penuh
cinta dan kasih sayang.
“Penggunaan kata ‘Ya Bunayya’ bukan sekadar wahai anak, tetapi wahai
anakku tersayang. Ini menunjukkan kelembutan, kedekatan, dan kehangatan seorang
ayah kepada anaknya,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa hati manusia tidak akan terbuka dengan kemarahan
atau bentakan, melainkan dengan kasih sayang.
“Hati manusia dibuka dengan kasih sayang. Kadang kita ingin anak
mendengar perkataan kita, tetapi kita lupa mendengar perasaan mereka,” katanya.
Di penghujung khutbahnya, Dr. Firman memanjatkan doa yang mengundang
haru jamaah. Ia memohon ampunan Allah SWT atas segala kekhilafan orang tua
dalam mendidik anak, serta memohon agar keluarga senantiasa diberikan
keberkahan dan kedekatan kepada Allah SWT.
“Ya Allah, jangan biarkan kami pulang, kecuali Engkau pulangkan hati
kami lebih dekat kepada-Mu,” doanya.
Ia juga mendoakan kedua orang tua yang masih hidup agar diberikan
kesehatan dan kebahagiaan, serta mendoakan orang tua yang telah wafat agar
dilapangkan kuburnya dan dikumpulkan kembali di surga.
Sementara itu, Ketua Panitia Kurban Masjid Al Hukama, Maali, dalam
laporannya menyampaikan bahwa pada Idul Adha tahun ini Masjid Al Hukama
menerima hewan kurban sebanyak delapan ekor sapi dan sebelas ekor kambing.
Hewan kurban tersebut berasal dari berbagai pihak, di antaranya Jaksa
Agung RI ST Burhanuddin yang menyerahkan satu ekor sapi, Kepala Badiklat
Kejaksaan RI Leonard Eben Ezer Simanjuntak satu ekor sapi, Tony Spontana yang
merupakan Kabadiklat periode 2020–2024 satu ekor sapi, serta Kepala Kejaksaan
Tinggi DKI Jakarta Patris Yusrian Jaya satu ekor sapi.
Selain itu, hewan kurban juga berasal dari pegawai Badiklat, peserta
PPPJ Angkatan 83 Gelombang I, dan masyarakat sekitar.
Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban dilakukan usai Sholat Idul Adha
di area samping halaman Masjid Al Hukama. Daging kurban selanjutnya dibagikan
kepada masyarakat pada siang harinya sebagai bentuk kepedulian sosial dan
semangat berbagi di Hari Raya Idul Adha. (Muzer)