News Update

Spekulasi Penguasaan Selat Hormuz Menguat, Pengamat Ingatkan Risiko Global


JAKARTA — Wacana mengenai potensi penguasaan Selat Hormuz oleh Amerika Serikat dan Israel kembali mencuat di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Pengamat politik dan keamanan internasional, Dr. Jerry Massie, menilai isu tersebut perlu disikapi secara hati-hati dan tidak semata dilihat dari superioritas militer.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Karena itu, setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut berpotensi memicu dampak luas terhadap stabilitas ekonomi global.

“Setiap ketegangan di Selat Hormuz hampir pasti berdampak global, terutama terhadap harga energi dan rantai pasok,” kata Jerry, Selasa, 7 April 2026.

Menurut dia, spekulasi mengenai langkah Amerika Serikat bersama Israel untuk menguasai Selat Hormuz muncul seiring meningkatnya ketegangan dengan Iran. Namun, ia menilai skenario tersebut tidak sesederhana yang dibayangkan.

Amerika Serikat memang memiliki keunggulan militer yang signifikan, mulai dari teknologi pesawat tempur seperti F-35 dan B-2 Spirit hingga sistem pertahanan rudal canggih seperti THAAD dan Patriot. Selain itu, kehadiran kapal induk seperti USS Gerald Ford dan USS Abraham Lincoln memperkuat kemampuan proyeksi kekuatan Negeri Paman Sam.

Meski demikian, Jerry mengingatkan bahwa kekuatan militer bukan satu-satunya faktor penentu dalam konflik.

“Iran memiliki strategi asimetris yang tidak bisa dianggap remeh, termasuk penggunaan drone dan rudal jarak menengah,” ujarnya.

Selain faktor militer, letak geografis Iran yang berdekatan langsung dengan Selat Hormuz dinilai menjadi keunggulan tersendiri. Iran disebut memiliki kemampuan untuk mengganggu jalur pelayaran tanpa harus terlibat dalam perang terbuka.

Dalam konteks tersebut, Jerry menilai klaim bahwa Amerika Serikat dapat dengan cepat menguasai Selat Hormuz dalam waktu singkat perlu dipertanyakan.

“Operasi militer di kawasan ini sangat kompleks. Bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga kalkulasi politik dan risiko eskalasi,” kata dia.

Ia menambahkan, intervensi militer secara langsung berpotensi memicu konflik yang lebih luas, melibatkan negara-negara di kawasan, serta berdampak pada ekonomi global.

Lonjakan harga minyak, gangguan distribusi energi, hingga ketidakpastian pasar menjadi risiko yang sulit dihindari jika konflik meluas.

Keterlibatan Israel, lanjut Jerry, juga berpotensi menambah kompleksitas situasi. Hubungan Iran dan Israel yang telah lama tegang dapat memperbesar eskalasi jika terjadi kerja sama militer terbuka.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun Israel terkait rencana penguasaan Selat Hormuz.

Jerry menilai, wacana tersebut lebih mencerminkan tekanan geopolitik dan strategi penyeimbang kekuatan daripada rencana operasi militer dalam waktu dekat.

“Ini lebih ke arah deterrence atau tekanan strategis, bukan sesuatu yang pasti akan dilakukan dalam waktu dekat,” ujarnya.

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment