Disparekraf DKI Jakarta Ajak Perwatusi Jelajahi Pesona Bahari Kepulauan Seribu
Dari Jejak Sejarah Pulo Onrust hingga Keindahan Asha Resort Pulau Payung
Jakarta, IMC — Semilir angin laut dan percikan ombak Teluk Jakarta menyambut langkah 26 anggota Perkumpulan Wanita Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) saat meninggalkan Dermaga Baywalk Pluit pada Rabu pagi, 29 April 2026. Dengan kapal yang membelah lautan biru, rombongan penuh semangat itu memulai sebuah perjalanan istimewa yang dirancang khusus oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi DKI Jakarta — sebuah wisata bahari yang akan membuka mata mereka terhadap kekayaan destinasi maritim ibu kota yang selama ini tersimpan bagai mutiara di tengah samudra.
Program pengenalan wisata bahari ini bukan sekadar rekreasi biasa. Di balik gelak tawa dan decak kagum para peserta, tersimpan misi strategis Disparekraf DKI Jakarta: memperkenalkan kekayaan destinasi Kepulauan Seribu kepada komunitas-komunitas terorganisir yang memiliki jaringan luas di seluruh Indonesia. Perwatusi — sebagai perkumpulan wanita yang berfokus pada kesehatan, keaktifan, dan pemberdayaan perempuan — menjadi mitra perdana yang dipercaya untuk merasakan langsung pesona wisata bahari Jakarta.
Berawal dari Dermaga Baywalk: Semangat yang Tak Kalah oleh Ombak
Pukul 08.00 WIB, seluruh peserta telah berkumpul di Dermaga Baywalk Pluit — titik keberangkatan yang menjadi pintu gerbang menuju kepulauan. Suasana pagi yang cerah diiringi antusias tinggi para anggota Perwatusi yang hadir dengan penampilan ceria dan semangat petualangan. Tepat pukul 08.30 WIB, kapal perlahan meninggalkan dermaga, membawa 26 perempuan tangguh ini mengarungi perairan Jakarta menuju destinasi pertama yang telah menanti: Pulau Onrust.
Satu Jam di Pulo Onrust: Ketika Sejarah Bercerita Sendiri
Pukul 09.00 WIB, kapal merapat di Pulau Onrust — dan waktu seolah berbalik ratusan tahun ke belakang. Reruntuhan benteng VOC yang kokoh, sisa-sisa galangan kapal kolonial Belanda yang melegenda, dan kompleks pemakaman kuno yang menyimpan kisah para pelaut serta pedagang dari berbagai penjuru dunia menjadi saksi bisu pergolakan zaman. Pulau yang namanya berarti ‘sibuk’ dalam bahasa Belanda ini pernah menjadi pusat kesibukan maritim Asia Tenggara pada abad ke-17 hingga ke-18.
Selama satu jam penuh — dari pukul 09.00 hingga 10.00 WIB — rombongan Perwatusi menjelajahi setiap sudut pulau didampingi oleh pramuwisata profesional bersertifikat dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI). Dengan tutur kata yang hidup dan penguasaan materi yang mendalam, sang pemandu mengurai benang merah sejarah menjadi kisah yang memikat, bukan ceramah kering, melainkan perjalanan waktu yang menggetarkan hati.
“Saya baru tahu ternyata Jakarta punya pulau bersejarah yang luar biasa seperti ini! Rasanya seperti menyentuh langsung halaman buku sejarah yang selama ini hanya saya baca,” ungkap salah satu peserta, matanya berbinar memandang reruntuhan yang berlumut namun penuh wibawa.
Asha Resort Pulau Payung: Surga Tropis yang Nyata
Pukul 10.00 WIB, kapal kembali bergerak, kali ini menuju Pulau Payung. Empat puluh lima menit berselang, Asha Resort menyambut rombongan dengan pemandangan yang langsung mencuri napas: hamparan pasir putih lembut, air laut toska jernih yang memantulkan langit biru, dan resort tropis yang memadukan keindahan alam alami dengan fasilitas modern bertaraf tinggi. Inilah salah satu permata tersembunyi Kepulauan Seribu yang kini mulai bersinar di peta pariwisata nasional.
Sesi paling mendebarkan dimulai pukul 10.45 WIB: Walking Tour ke Kolam Hiu Pari dan pantai yang berlangsung hingga pukul 12.00 WIB. Peserta diajak merasakan sensasi unik berjalan di tepi kolam yang dihuni ikan hiu pari, pengalaman langka yang mustahil ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta. Antusiasme memuncak; kamera dan gawai tak henti mengabadikan momen demi momen yang luar biasa.
Tepat pukul 12.00 WIB, seluruh peserta mengambil tempat di VIP Room Asha Resort untuk menikmati jamuan makan siang selama satu setengah jam. Hidangan seafood segar khas Kepulauan Seribu tersaji dengan apik — ikan bakar, cumi saus tiram, kepiting rebus, dan aneka masakan laut lainnya yang membuat meja makan penuh gelak tawa dan cerita. Sebuah perjamuan yang tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga mempererat kebersamaan.
Sesi bebas (free time) dari pukul 13.30 hingga 14.30 WIB menjadi penutup yang sempurna. Ada yang duduk santai di tepi pantai menikmati deburan ombak, ada yang masih asyik berfoto dengan latar laut yang memukau, ada pula yang rebahan di bawah rindang pepohonan sambil menghirup udara segar Kepulauan Seribu yang bebas polusi. Ketenangan sejati, jauh dari kemacetan dan kepenatan ibu kota.
Pramuwisata HPI: Jiwa Wisata yang Hidup di Setiap Langkah
Keberhasilan program ini tak lepas dari peran vital pramuwisata bersertifikat Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) yang mendampingi seluruh rangkaian perjalanan. Berbekal pengetahuan mendalam, keterampilan komunikasi yang mumpuni, dan kepekaan terhadap kebutuhan peserta, para pemandu HPI berhasil menjadikan setiap destinasi bukan sekadar tempat yang dikunjungi, melainkan pengalaman yang dihayati sepenuh hati.
Disparekraf DKI Jakarta menegaskan bahwa standar pelayanan pramuwisata berlisensi merupakan pilar utama komitmen pemerintah provinsi dalam menghadirkan wisata yang aman, berkualitas, dan bermartabat. Setiap wisatawan yang menginjakkan kaki di Kepulauan Seribu berhak mendapatkan pengalaman terbaik — dan para pramuwisata HPI adalah jaminan atas hal tersebut.
Kepulauan Seribu: Masa Depan Pariwisata Jakarta Ada di Sini
Pukul 14.30 WIB, rombongan Perwatusi meninggalkan Asha Resort dengan membawa serta kenangan dan kecintaan baru terhadap Kepulauan Seribu. Perjalanan kembali ke Dermaga Baywalk Pluit selama satu setengah jam diisi dengan cerita-cerita segar, tawa, dan janji untuk kembali — kali ini bersama keluarga dan sahabat.
Sebagai satu-satunya kabupaten kepulauan di Provinsi DKI Jakarta, Kepulauan Seribu menyimpan lebih dari 100 pulau dengan ragam potensi yang menakjubkan: wisata heritage di Pulau Onrust, Pulau Bidadari, dan Pulau Cipir; konservasi terumbu karang dan penyu; snorkeling dan diving di perairan jernih; hingga resort eksklusif seperti Asha Resort yang siap memanjakan setiap pengunjung. Semua ini hanya berjarak dua hingga tiga jam perjalanan dari pusat kota Jakarta.
Dengan mengajak komunitas terorganisir seperti Perwatusi untuk menyaksikan sendiri keindahan ini, Disparekraf DKI Jakarta berharap terciptanya efek pengganda yang signifikan: 26 peserta yang kembali dengan hati penuh akan menjadi 26 duta wisata hidup yang menceritakan pengalaman mereka kepada ratusan, bahkan ribuan orang di jaringan mereka. Promosi terbaik lahir dari pengalaman nyata dan ketulusan hati.
Ketika kapal akhirnya merapat kembali di Dermaga Baywalk Pluit menjelang sore hari, satu hal terasa jelas di wajah semua peserta: mereka tidak sekadar kembali dari wisata — mereka kembali sebagai saksi hidup bahwa surga itu tidak harus jauh. Ia bisa saja ada hanya beberapa jam pelayaran dari pantai ibu kota, menunggu untuk ditemukan, dinikmati, dan dicintai. (red)
Disparekraf Provinsi DKI Jakarta | Jakarta Tourism & Creative Economy | 2026
#WisataJakarta #KepulauanSeribu #PuloOnrust #AshaResort #WisataBahari


