Perang Iran–AS Memanas, Seberapa Rentan Ekonomi Indonesia?
![]() |
| Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Prof Anthony Budiawan |
JAKARTA– Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel,
dan Iran memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk
Indonesia. Potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur strategis distribusi minyak
dunia, dinilai dapat memperbesar tekanan terhadap perekonomian nasional.
Selat Hormuz merupakan salah satu titik vital perdagangan energi global.
Jika jalur tersebut terganggu, distribusi minyak mentah berpotensi tersendat
dan mendorong lonjakan harga energi. Sejumlah pasar saham dunia dilaporkan
melemah seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Di dalam negeri,
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut mengalami koreksi.
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Prof Anthony
Budiawan dalam kanal YouTube Sinkos Indonesia, Senin (2/3/2026) menilai
kenaikan harga minyak saat ini masih berada pada tahap awal. Apabila gangguan
distribusi berlanjut, dampaknya diperkirakan meluas tidak hanya ke sektor
energi, tetapi juga terhadap inflasi, nilai tukar rupiah, serta daya beli
masyarakat.
Indonesia dinilai berada dalam posisi rentan karena ketergantungan terhadap
impor energi masih relatif tinggi. Cadangan energi nasional disebut terbatas,
sementara sebagian pasokan impor berasal dari kawasan yang berpotensi terdampak
konflik.
“Kondisi ini berisiko memperbesar tekanan terhadap neraca perdagangan dan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama apabila pemerintah
perlu menambah subsidi atau kompensasi energi untuk menahan dampak kenaikan
harga minyak dunia,” ungkapnya.
Di tengah ancaman eksternal tersebut, sejumlah ekonom menilai struktur
ekonomi Indonesia masih menghadapi tantangan mendasar.
“Dalam sekitar satu dekade terakhir, produktivitas ekonomi Indonesia
tercatat mengalami penurunan sekitar 2,8 persen. Sebaliknya, Vietnam dan
Malaysia mencatat kenaikan produktivitas masing-masing hampir 15 persen dan
lebih dari 16 persen,” ujarnya.
“Vietnam bahkan telah menyamai pendapatan per kapita Indonesia. Dengan
tingkat investasi yang relatif setara, pertumbuhan ekonomi Vietnam disebut
dapat mencapai sekitar 1,7 kali lipat Indonesia, mencerminkan efisiensi
struktur industrinya yang lebih kuat,” lanjutnya.
“Efisiensi investasi Indonesia juga tercermin dari rasio Incremental Capital
Output Ratio (ICOR) yang berada di kisaran 6,5–7. Angka ini lebih tinggi
dibandingkan Vietnam yang berada di sekitar 4,8. ICOR yang tinggi menunjukkan
kebutuhan investasi lebih besar untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang
sama,” jelasnya.
Tanpa reformasi struktural di sektor industri, target pertumbuhan ekonomi
7–8 persen dinilai sulit dicapai secara berkelanjutan.
“Indonesia juga dinilai menghadapi fenomena deindustrialisasi dini (premature
deindustrialization). Kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB) yang pada tahun 2000 mencapai sekitar 28–30 persen kini turun
menjadi sekitar 18–19 persen,” katanya.
Penurunan tersebut terjadi ketika Indonesia masih berada dalam kategori negara
berpendapatan menengah bawah. Secara teoritis, pergeseran dari sektor
manufaktur ke sektor jasa umumnya terjadi setelah suatu negara mencapai tingkat
pendapatan tinggi.
Akibatnya, terjadi peningkatan tenaga kerja di sektor informal yang memiliki
produktivitas relatif lebih rendah. Kondisi ini dinilai membatasi penciptaan
lapangan kerja formal yang stabil dan berpenghasilan lebih baik.
Di sisi lain, sektor pertambangan juga menjadi perhatian. Lonjakan harga
komoditas dalam beberapa tahun terakhir dinilai lebih banyak menguntungkan
kelompok tertentu. Terdapat pengusaha batu bara yang mengalami kenaikan aset
signifikan saat harga komoditas melonjak.
Situasi ini kembali memunculkan perdebatan mengenai implementasi Pasal 33
UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa pengelolaan sumber daya alam harus digunakan
sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
“Sejumlah kalangan menilai peran BUMN strategis perlu diperkuat agar
pengelolaan sumber daya alam berjalan lebih transparan, profesional, dan
memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” harapnya
Dalam situasi global yang tidak menentu, pemerintah dinilai perlu memperkuat
ketahanan energi nasional, mendorong reformasi struktural industri, serta
memastikan kebijakan ekonomi berbasis kajian risiko geopolitik yang
komprehensif.
“Tanpa pembenahan struktural, guncangan eksternal seperti konflik di Timur
Tengah dikhawatirkan dapat mempercepat tekanan terhadap perekonomian nasional
yang tengah menghadapi tantangan daya saing dan produktivitas,” ungkapnya.
