News Update

Ancaman Hormuz: Lonjakan Harga Minyak ke 150 Dollar Berpotensi Menekan APBN dan Daya Beli Masyarakat

JAKARTA — Ancaman penutupan jalur vital energi global di Selat Hormuz serta gangguan pelayaran di Laut Merah kian menjadi perhatian dunia. Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, lonjakan harga minyak berisiko menekan keuangan negara sekaligus meningkatkan beban pengeluaran masyarakat.

Berdasarkan analisis interaktif kerentanan ekonomi Indonesia, kenaikan harga minyak dari 70 dollar AS hingga 150 dollar AS per barel dapat memicu efek domino pada berbagai indikator makroekonomi. Dampaknya mencakup peningkatan subsidi energi, pelebaran defisit fiskal, hingga tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah.

Pada level 70 dollar AS per barel, harga minyak masih sejalan dengan asumsi dalam APBN, sehingga beban subsidi dan defisit anggaran relatif terjaga. Namun, ketika harga naik ke kisaran 100 dollar AS per barel, tekanan fiskal mulai meningkat karena pemerintah harus menambah anggaran subsidi dan kompensasi energi guna menjaga stabilitas harga BBM dan LPG.

Ekonom dan Managing Director Political Economy and Policy Studies, Anthony Budiawan, menilai lonjakan harga minyak dunia akan memberikan tekanan signifikan terhadap APBN.

Ia menyebut, apabila harga minyak menembus di atas 100 dollar AS per barel, beban subsidi energi berpotensi melonjak tajam. Tanpa langkah penyesuaian kebijakan, kondisi tersebut dapat memperlebar defisit anggaran negara.

Menurut Anthony, kenaikan harga energi global juga berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi nasional, terutama melalui jalur inflasi dan nilai tukar.

Kenaikan harga minyak umumnya diikuti oleh meningkatnya biaya transportasi dan distribusi. Hal ini kemudian mendorong kenaikan harga barang dan jasa, sehingga memicu inflasi.

Ia menambahkan, tekanan inflasi akan semakin kuat apabila kenaikan harga energi berlangsung dalam periode yang cukup lama. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor industri, tetapi juga langsung menyentuh kebutuhan masyarakat sehari-hari, terutama pada sektor pangan dan transportasi.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak turut meningkatkan kebutuhan impor energi. Kondisi ini memperbesar permintaan terhadap dolar AS dan berpotensi menekan nilai tukar rupiah.

Dampak tersebut juga terasa di tingkat rumah tangga. Biaya memasak berpotensi meningkat karena Indonesia masih bergantung pada impor LPG. Selain itu, harga bahan pangan dapat ikut naik seiring meningkatnya biaya produksi dan distribusi.

Anthony menilai situasi ini berisiko menekan daya beli masyarakat. Ketika harga energi dan pangan naik secara bersamaan, konsumsi rumah tangga—yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia—dapat melambat.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis bagi distribusi minyak dunia. Gangguan pada jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi sekaligus meningkatkan ketidakpastian global.

Dengan tingginya ketergantungan pada impor minyak dan LPG, Indonesia dinilai masih rentan terhadap gejolak harga energi internasional. Oleh karena itu, penguatan ketahanan energi dan diversifikasi pasokan menjadi langkah penting untuk meredam dampak risiko dari konflik geopolitik global.
Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment