News Update

Tembus Gelombang Duka, Relawan Tahfidz Sumbar Peluk Erat Warga Sekumur yang Kehilangan Segalanya

 



Aceh Tamiang, IMC – Pemandangan memilukan menghampar di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak. Desa yang dulunya asri, kini rata dengan tanah setelah dihantam banjir bandang dahsyat setinggi 10 meter. Di tengah puing-puing sisa kehidupan, kehadiran para pejuang kemanusiaan dari Relawan Tahfidzul Qur’an Ma’had Annur, Sungai Tanang, Agam, Sumatera Barat, pada Kamis (05/02/26), menjadi setitik cahaya di tengah kegelapan


Bergerak cepat, tim relawan menyisir titik-titik terparah. Menariknya, untuk membangkitkan ekonomi lokal yang sempat lumpuh, tim sengaja memborong logistik dari UMKM di sepanjang Desa Pulau 3, Tamiang Hulu, sebelum membawanya ke titik bencana. Bantuan berupa logistik makanan, pakaian layak pakai, hingga perlengkapan dapur pun langsung diserahkan kepada warga yang kini tak punya apa-apa lagi.


Dalam suasana haru, Datok Penghulu (Kepala Desa) Sekumur, Sopian Iskandar, menceritakan betapa mengerikannya malam saat air kiriman itu datang.


"Ustadz, kami tak pernah menyangka air bisa setinggi itu. Kampung kami jauh dari sungai, tapi air naik sampai 7 hingga 10 meter! Habis semua, Ustadz. Dari ratusan rumah, cuma 8 rumah yang tersisa. Sisanya? Hilang disapu air. Alhamdulillah, hanya Masjid kami yang masih berdiri kokoh di tengah lautan air waktu itu," ungkap Sopian dengan suara bergetar.



Dengan total warga mencapai 1.232 jiwa (276 KK), Desa Sekumur kini layaknya desa mati yang mencoba bangkit. Warga kehilangan harta benda; baju di badan itulah yang tersisa.


Meski bantuan logistik mulai mengalir, warga Desa Sekumur masih menghadapi masalah besar pasca-bencana. Sumber air bersih hancur, dan peralatan memasak sirna.


Sumur cincin milik warga kering kerontang karena musim kemarau, sementara sisa banjir menyisakan lumpur. Warga sangat membutuhkan 10 titik sumur bor dengan kedalaman 80–100 meter (biaya sekitar Rp17 juta per unit hingga siap pakai). Saat ini baru tersedia 4 titik bantuan relawan lain, itu pun belum mencukupi dan Sekitar 80% warga tidak bisa memasak karena tabung gas mereka hanyut terbawa arus.


"Kami benar-benar mulai dari nol lagi, Ustadz. Kalau ada rezeki lebih dari para relawan, kami sangat memohon bantuan sumur bor dan tabung gas. Itu nyawa kami untuk bertahan hidup sehari-hari sekarang," tambah Datok Sopian.


Relawan Tahfidzul Qur’an Ma’had Annur berkomitmen untuk terus mengawal pemulihan Desa Sekumur. Jarak antara Sumatera Barat dan Aceh Tamiang bukan penghalang untuk menjahit kembali harapan warga yang terkoyak banjir bandang.

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment