Ribuan Nyawa Terkatung-katung, BNPB Diduga Sengaja Memperlambat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang
Aceh Tamiang , IMC – Di tengah puing-puing sisa bencana yang masih menganga, sebuah pengkhianatan terhadap kemanusiaan diduga sedang terjadi. Hingga medio Februari 2026, ribuan penyintas bencana di Aceh Tamiang masih terpaksa memeluk dinginnya malam di tenda-tenda darurat. Ironisnya, biang kerok dari keterlambatan ini justru mengarah pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang seharusnya menjadi garda terdepan penyelamat warga. Sabtu (21/02/26).
Berdasarkan data valid laporan pemulihan bencana per 16 Februari 2026, ketimpangan antara realita di lapangan dengan janji birokrasi sangat menyayat hati. Dari total kebutuhan, baru 885 unit Hunian Sementara (Huntara) yang berhasil dihuni. Itu pun mayoritas lahir dari kerja keras pihak lain seperti Danantara (600 unit) dan Kementerian PU (240 unit).
Sementara itu, proyek di bawah kendali langsung BNPB tampak jalan di tempat, seolah kehilangan denyut nadi.
Sorotan tajam tertuju pada angka fantastis yang masih berstatus "progres" namun tak kunjung tuntas. Tercatat, kontribusi kemacetan terbesar datang dari dua lini utama BNPB:
BNPB Terpusat: 1.233 unit (Masih Progres)
BNPB In-Situ: 614 unit (Masih Progres)
Total 1.847 unit Huntara di bawah tanggung jawab BNPB saat ini hanya menjadi tumpukan material dan janji kosong. Angka ini mewakili lebih dari 60% kegagalan penyelesaian hunian secara keseluruhan.
Masyarakat mulai mencium aroma ketidaksigapan. Muncul dugaan kuat bahwa pihak BNPB tidak melakukan penekanan (push) terhadap percepatan pembangunan karena asumsi yang dianggap merendahkan kondisi warga.
"Kami mendengar mereka (BNPB) berdalih masyarakat lebih memilih Dana Tunggu Hunian (DTH) daripada Huntara. Itu alasan malas! Kami butuh atap sekarang, bukan janji uang sewa yang entah kapan cairnya," cetus Anwar (45), salah satu warga terdampak dengan nada getir.
Ketakutan birokrasi bahwa Huntara yang dibangun tidak akan berpenghuni dianggap sebagai alasan yang tidak masuk akal oleh tokoh pemuda setempat. "Jangan berkilah lagi! Lihat anak-anak kami yang sakit karena lembap di tenda. Rakyat butuh perlindungan, bukan perdebatan statistik penghuni."
Saat dikonfirmasi oleh awak media indonesiamediacenter.com, Camat Tamiang Hulu, M. Ilham Malik, S.STP, MM, memberikan penjelasan mendetail mengenai kondisi riil di wilayahnya. Pihak kecamatan telah mengajukan pembangunan Huntara (Komunal maupun In-situ) untuk 592 KK yang rumahnya rusak berat atau hanyut.
Update Progres Pengerjaan di Tamiang Hulu:
Lokasi Lapangan Kecamatan: Target 221 KK (149 KK asal Perk. Pulau Tiga, 72 KK asal Bandar Khalifah). Saat ini baru 30 KK yang menempati Huntara.
Lokasi Lapangan Afdeling 6: Target 260 KK (asal Kaloy). Hingga saat ini belum ada yang menempati bangunan.
Lokasi Lahan Masyarakat: Target 111 KK (asal Rongoh). Masih dalam proses pengerjaan di tiga titik lokasi.
M. Ilham Malik menegaskan bahwa kapasitas pemerintah kecamatan terbatas pada pendataan dan pengawalan.
"Terkait kendala teknis mengapa Huntara Komunal dan In-situ belum tuntas, pihak yang paling berwenang menjelaskan adalah Vendor atau BNPB secara langsung," tegasnya.
Upaya Konkret yang Telah Dilakukan Camat:
Akselerasi Data: Menyerahkan data BNBA (By Name By Address) tahap I sejak awal Januari, segera setelah SK ditetapkan pada 26 Desember 2025.
Advokasi Lapangan: Menghadirkan tim BNPB untuk memverifikasi langsung warga pemohon DTH yang rumahnya benar-benar hilang (total 8 orang di Alur Tani II).
Intervensi Kebijakan: Mendesak pembangunan Huntara bagi warga Rongoh dalam rapat bersama BNPB, Kemendagri, dan Forkopimda setelah sempat terbengkalai selama sebulan.
Monitoring Rutin: Melakukan pengecekan progres secara berkala melalui Datok Penghulu di tiap desa.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kecamatan mengaku belum mendapatkan penjelasan resmi dari BNPB terkait mandeknya pengerjaan Huntara In-situ (pembangunan di lokasi rumah asal). Rakyat kini tidak butuh penjelasan teknis yang berbelit; mereka butuh dinding yang kokoh untuk menyambung hidup yang sempat patah.
