Khianati Rakyat, Datok Alur Baung Pilih 'Menghilang' Ketimbang Jelaskan Borok Pendataan Korban Banjir
Aceh Tamiang, IMC – Aroma nepotisme dalam pendataan bantuan banjir di Kampung Alur Baung, Kecamatan Karang Baru, berakhir dengan drama pelarian sang pemimpin. Sudah sepekan lebih, kursi kekuasaan di desa tersebut kosong melompong. Abdul Azis, sang Datok Penghulu (Kepala Desa), raib bak ditelan bumi tepat saat warga menuntut pertanggungjawaban.
Ketegangan bermula pada Selasa malam, 3 Februari 2026. Balai desa yang biasanya tenang berubah menjadi lautan emosi saat seratusan kepala keluarga mengepung kantor desa. Mereka menuntut penjelasan atas kebijakan "pilih kasih" yang dilakukan perangkat desa.
Dari sekitar 278 KK yang rumahnya terendam banjir, hanya 36 KK yang diusulkan sebagai penerima bantuan. Ironisnya, mayoritas dari mereka yang terdaftar diduga kuat adalah kerabat dekat sang Datok, termasuk warga yang rumahnya sama sekali tidak tersentuh air.
"Ini benar-benar menyakiti hati rakyat. Yang rumahnya tenggelam justru diabaikan, sementara keluarga Datok yang kering kerontang malah masuk daftar," tegas Ketua Pemuda Alur Baung, Jabal, dengan nada getir kepada media, Sabtu (21/02/26).
Puncak drama terjadi pada Sabtu malam, 7 Februari 2026. Setelah mangkir dari janji pertemuan kedua yang difasilitasi oleh Majelis Duduk Setikar Kampung (MDSK), keberadaan Abdul Azis mulai menjadi misteri. Warga yang menggeledah setiap sudut kampung hingga larut malam tidak menemukan tanda-tanda keberadaannya.
Keesokan harinya, sebuah pemandangan ganjil ditemukan di area perbukitan Dusun Keluarga. Sepeda motor dinas yang kerap digunakan Azis ditemukan terparkir bisu dengan sepasang pakaian tersampir di atasnya.
"Kuat dugaan, dia sengaja meninggalkan kendaraan itu untuk menghilangkan jejak sebelum dijemput seseorang. Dia lari dari tanggung jawab," tambah Jabal.
Kini, rasa kecewa warga telah berubah menjadi tuntutan harga mati. Masyarakat Alur Baung tidak lagi menginginkan penjelasan; mereka menginginkan pengunduran diri atau pemecatan Abdul Azis dari jabatannya. Sang Datok dinilai gagal total sebagai pemimpin dan pengecut dalam menghadapi persoalan warga.
Hingga berita ini diturunkan, Abdul Azis masih menjadi "orang hilang". Upaya konfirmasi melalui sambungan telepon maupun pesan WhatsApp tidak membuahkan hasil. Desa Alur Baung kini bagaikan anak ayam kehilangan induknya, menanti ketegasan pemerintah kabupaten untuk mengisi kekosongan kepemimpinan yang ditinggal lari oleh sang pemegang amanah.
