News Update

Iran dan China Dikabarkan Hampir Sepakat Soal Rudal Antikapal Supersonik, Ketegangan dengan AS Meningkat

 



Jakarta, IMC Indonesia– Teheran dilaporkan berada di tahap akhir negosiasi dengan Beijing untuk pengadaan rudal jelajah antikapal supersonik, di tengah meningkatnya ketegangan militer dengan Amerika Serikat. Informasi ini mencuat saat Washington memperkuat kehadiran militernya di sekitar kawasan Teluk, termasuk pengerahan armada laut dalam jarak strategis dari wilayah Iran. Kamis (26/02/26) 


Sejumlah sumber yang mengikuti proses pembicaraan menyebutkan bahwa kesepakatan pembelian rudal CM-302 produksi China hampir rampung. Namun demikian, detail teknis seperti jumlah unit maupun jadwal pengiriman belum dipastikan.


CM-302 dikenal sebagai rudal antikapal berkecepatan supersonik dengan jangkauan sekitar 290 kilometer. Sistem ini dirancang terbang rendah mendekati permukaan laut (sea-skimming) sehingga menyulitkan deteksi radar dan intersepsi oleh sistem pertahanan kapal perang. Para analis pertahanan menilai, jika benar diakuisisi, kemampuan tersebut akan meningkatkan daya gentar Iran terhadap kekuatan laut di kawasan.


Pembicaraan mengenai sistem persenjataan ini sebenarnya telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu, tetapi intensitasnya dilaporkan meningkat tajam setelah konflik singkat antara Israel dan Iran pada pertengahan tahun lalu. Beberapa pejabat yang mengetahui proses tersebut menyebutkan bahwa pertemuan tingkat tinggi, termasuk kunjungan pejabat militer senior Iran ke China, menjadi penanda percepatan negosiasi.


Analis keamanan kawasan menilai keberadaan rudal supersonik di tangan Iran berpotensi mengubah keseimbangan taktis di perairan strategis Timur Tengah. Sistem dengan kecepatan tinggi dan profil terbang rendah dinilai sulit dicegat, sehingga meningkatkan risiko bagi kapal tempur yang beroperasi di sekitar Teluk.


Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi terkait nilai kontrak maupun jumlah rudal yang akan dibeli. Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Iran memberikan sinyal bahwa kerja sama pertahanan dengan negara mitra merupakan bagian dari kesepakatan bilateral yang sah.


"Iran memiliki kerja sama militer dan keamanan dengan para sekutunya, dan pemanfaatan kerja sama tersebut merupakan hak kedaulatan," ujar pejabat tersebut.


Di pihak lain, pemerintah China merespons secara hati-hati. Kementerian Luar Negeri China menyatakan tidak memiliki informasi mengenai laporan potensi penjualan rudal tersebut. Sikap ini mencerminkan pendekatan diplomatik Beijing yang cenderung menahan diri dalam isu sensitif yang berpotensi memicu ketegangan global.


Sementara itu, Gedung Putih belum memberikan tanggapan langsung atas rincian negosiasi tersebut. Seorang pejabat pemerintahan Amerika menegaskan bahwa Presiden Donald Trump tetap membuka dua opsi terhadap Iran: jalur diplomasi atau tindakan tegas bila kepentingan keamanan Amerika dinilai terancam.


Apabila terealisasi, transfer CM-302 disebut-sebut akan menjadi salah satu pengiriman sistem persenjataan paling canggih dari China ke Iran dalam beberapa dekade terakhir. Langkah ini juga berpotensi memicu kontroversi di tengah dinamika embargo dan pembatasan internasional terhadap pengembangan senjata Iran.


Dukungan China terhadap Iran tidak hanya terlihat dalam isu pertahanan. Dalam pertemuan bilateral sebelumnya di Beijing, Presiden Xi Jinping menyampaikan dukungan politik terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Iran di hadapan Presiden Masoud Pezeshkian. Pernyataan tersebut dinilai sebagai sinyal kedekatan strategis kedua negara di tengah rivalitas global yang kian tajam.


Di saat bersamaan, Amerika Serikat meningkatkan kesiapsiagaan militernya di kawasan, termasuk penempatan kapal induk seperti USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford yang membawa ribuan personel serta ratusan pesawat tempur. Konsentrasi kekuatan ini dipandang sebagai bentuk tekanan sekaligus langkah antisipatif terhadap kemungkinan eskalasi.


Sejumlah peneliti pertahanan menilai bahwa penguatan arsenal Iran juga dipicu oleh kebutuhan modernisasi pasca konflik sebelumnya. Selain rudal antikapal, beredar pula informasi bahwa Teheran menjajaki kemungkinan pengadaan sistem pertahanan udara, kemampuan anti-balistik, hingga teknologi anti-satelit.


Pengamat geopolitik melihat dinamika ini sebagai bagian dari persaingan kekuatan besar yang lebih luas. Iran dinilai menjadi salah satu titik strategis dalam kontestasi pengaruh antara Amerika Serikat di satu sisi dan blok yang lebih dekat dengan Rusia serta China di sisi lain.


Jika kesepakatan benar-benar terealisasi, dampaknya bukan hanya pada keseimbangan militer regional, tetapi juga pada konstelasi politik global yang saat ini tengah mengalami pergeseran signifikan. (Rachman Salihul Hadi/IMC/Red.)

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment