News Update

NATO Terancam Retak: Trump Pertanyakan Aliansi Jika Tak Dukung Ambisi AS Kuasai Greenland

 



Jakarta, IMC Indonesia- Dunia internasional kembali dikejutkan oleh munculnya krisis serius di tubuh aliansi militer terbesar dunia, NATO. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mempertanyakan masa depan aliansi tersebut setelah negara-negara anggota menolak mendukung rencana Amerika Serikat untuk menguasai Greenland. Pernyataan ini dinilai sebagai ancaman langsung terhadap soliditas NATO yang telah berdiri selama lebih dari tujuh dekade.

Dalam pidato resmi yang disampaikan pada 17 Januari 2026, Trump menegaskan bahwa penguasaan Greenland merupakan kepentingan strategis yang tak dapat ditawar bagi keamanan nasional Amerika Serikat. Ia menyebut wilayah Arktik tersebut sebagai kunci utama dalam operasionalisasi sistem pertahanan rudal terbaru AS yang diberi nama “Golden Dome”.

“Jika negara-negara NATO tidak dapat melihat pentingnya langkah ini bagi keamanan bersama kita, maka kita harus menilai kembali apa manfaat yang kita dapatkan dari keanggotaan dalam aliansi ini,” tegas Trump di hadapan para pejabat pertahanan AS.

Pernyataan tersebut segera memicu gelombang reaksi keras dari sekutu-sekutu Eropa. Perdana Menteri Inggris, Presiden Prancis, dan Kanselir Jerman secara bersama-sama mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa kedaulatan negara adalah prinsip fundamental dalam hubungan internasional dan tidak dapat dikompromikan oleh kepentingan sepihak.

Ketiga pemimpin Eropa itu juga menegaskan dukungan penuh terhadap keputusan Denmark dan pemerintah otonom Greenland yang menolak rencana penguasaan wilayah oleh Amerika Serikat. Menurut mereka, sikap tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB.

Sebagai langkah konkret, Inggris, Prancis, dan Jerman mengumumkan rencana pengerahan personel militer untuk latihan bersama di kawasan Arktik pada kuartal pertama tahun ini. Latihan tersebut dipandang sebagai sinyal politik dan militer bahwa Eropa berkomitmen menjaga stabilitas kawasan Arktik yang kini menjadi titik panas baru dalam persaingan geopolitik global.

Di sisi lain, dinamika internal juga terlihat di Amerika Serikat. Delegasi Kongres AS dari Partai Demokrat dan Partai Republik melakukan kunjungan mendadak ke Kopenhagen, menyuarakan dukungan terhadap Denmark dan Greenland. Langkah ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang tajam di dalam negeri AS terkait kebijakan Trump.

Menteri Luar Negeri Denmark bersama pemimpin pemerintah otonom Greenland kembali menegaskan sikap tegas mereka.

“Greenland bukan milik yang dapat dibeli atau diambil paksa,” tegas pernyataan bersama tersebut.

Meski demikian, Denmark dan Greenland menyatakan kesiapan membentuk kelompok kerja bersama dengan Amerika Serikat untuk membahas kerja sama kawasan Arktik secara berkala, dengan penegasan bahwa pembahasan tersebut tidak mencakup isu penguasaan wilayah.

Para analis menilai krisis ini sebagai ujian terbesar bagi NATO dalam beberapa tahun terakhir. Kekhawatiran menguat bahwa perpecahan internal aliansi dapat dimanfaatkan oleh kekuatan global lain seperti Rusia dan China untuk memperluas pengaruh strategis mereka di kawasan Arktik.

Situasi ini menempatkan NATO pada persimpangan sejarah: antara mempertahankan prinsip kolektif dan kedaulatan, atau terjebak dalam tekanan kepentingan geopolitik sepihak yang berpotensi menggerus fondasi aliansi itu sendiri. (Rachman Salihul Hadi/IMC/Red.)

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment