Tunjukkan Ijazah Asli, Polemik Selesai
Aceh Tamiang, IMC - Bangsa ini seolah sedang dipaksa menonton sandiwara hukum yang terlalu bising untuk persoalan yang sejatinya sangat sederhana. Polemik ijazah yang kini disulap menjadi duel raksasa para pengacara, konferensi pers berlapis, dan pertarungan ego di ruang publik sebenarnya bisa selesai dalam satu langkah jujur: tunjukkan ijazah asli, secara terbuka, secara bermartabat. Senin (15/12/25)
bermartabat. Jika dokumen itu memang sah, mengapa harus berputar-putar di lorong panjang laporan polisi, pasal pencemaran nama baik, UU ITE, hingga parade pengacara papan atas dengan biaya mahal dan energi publik yang terkuras? Dalam logika komunikasi publik, semakin panjang penjelasan yang defensif, semakin besar ruang tafsir dan kecurigaan yang tumbuh.
Gelar perkara di Polda Metro Jaya kini diperlakukan seperti arena gladiator: siapa pengacaranya paling terkenal, siapa narasinya paling keras, siapa serangannya paling menyakitkan. Padahal, hukum bukan panggung hiburan. Ia adalah instrumen keadilan. Dan keadilan tidak membutuhkan drama berlebihan, ia membutuhkan bukti yang terang.
Membawa pengacara elite tentu hak setiap warga negara. Namun ketika persoalan administratif-akademik ditarik ke ranah pidana dengan nada “hidup-mati”, publik berhak bertanya: apakah ini soal mencari kebenaran, atau sekadar memenangkan persepsi? Apakah ini upaya klarifikasi, atau strategi melelahkan lawan hingga kehabisan napas dan sumber daya?
Lebih ironis lagi, narasi saling merendahkan di ruang publik “pulang jongkok”, “malu di hadapan netizen” telah menurunkan derajat diskursus hukum menjadi sekadar adu viral. Ini berbahaya. Negara hukum bisa berubah menjadi negara gaduh jika kebenaran dikalahkan oleh sensasi.
Sebagai figur publik, terlebih mantan presiden, standar etik seharusnya lebih tinggi dari warga biasa. Transparansi bukan ancaman, melainkan teladan. Menunjukkan ijazah asli bukan tanda kalah, justru tanda percaya diri dan kedewasaan berdemokrasi. Selesai. Tidak perlu duel brutal, tidak perlu kriminalisasi, tidak perlu menghabiskan energi bangsa.
Jika ijazah itu asli, publik akan berhenti bertanya.
Jika polemik terus dipelihara, publik akan terus curiga. Sesederhana itu.
Negeri ini sedang menghadapi masalah jauh lebih besar: ekonomi, keadilan sosial, pendidikan, dan masa depan generasi muda.
Jangan biarkan energi publik habis untuk drama yang sebenarnya bisa ditutup dengan satu tindakan jujur.
Tunjukkan ijazahmu. Polemik selesai. Negara pun bernafas lega.
Tim Redaks: Indonesia Media Center
