Lentera di Balik Lumpur: UIN Sumatera Barat Melawan Trauma, Membangun Asa
Sumatera Barat, IMC – Langit akhir November hingga awal Desember 2025 menjadi saksi bisu duka mendalam bagi Sumatera Barat. Banjir bandang dan tanah longsor menyapu tanah Minang, meninggalkan luka yang menganga, tak terkecuali bagi keluarga besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Barat. Kamis (25/12/2025), tepat di hari yang seharusnya penuh kedamaian, kampus ini masih berjuang bangkit dari reruntuhan.
Hujan deras yang mengguyur tanpa henti memicu longsor hebat yang menghantam jantung kampus. Pusat ilmu pengetahuan yang biasanya riuh dengan diskusi mahasiswa, seketika sunyi tertimbun material tanah dan bebatuan. Gedung perkuliahan retak, atap-atap hancur, laboratorium yang berisi riset penting terendam, dan asrama mahasiswa tak lagi aman untuk dihuni.
“Ini bukan sekadar kerusakan fisik. Ini adalah patahnya semangat mahasiswa yang tengah mengejar mimpi,” ujar salah satu staf kampus dengan nada bergetar. Aktivitas akademik lumpuh total, memaksa ribuan mahasiswa dan staf mengungsi ke aula, masjid, hingga rumah-rumah warga sekitar.
Namun, di tengah kegelapan, cahaya kemanusiaan justru bersinar paling terang. Alih-alih terpuruk dalam trauma, mahasiswa UIN Sumbar bergerak cepat membentuk Tim Relawan Kampus. Dengan seragam yang berlumur lumpur, mereka bahu-membahu bersama BPBD, TNI, Polri, dan Basarnas melakukan evakuasi dan menyalurkan bantuan logistik.
Tak hanya tenaga, dukungan psikologis menjadi prioritas. Para dosen dan staf tidak tinggal diam; mereka mendirikan posko darurat dan memberikan layanan konseling bagi mahasiswa yang kehilangan rumah, harta benda, hingga orang-orang terkasih.
Rektorat UIN Sumbar bergerak taktis dengan mengambil langkah-langkah darurat: Perkuliahan dialihkan sepenuhnya ke moda daring (online) untuk memastikan hak pendidikan mahasiswa tidak terhenti meskipun infrastruktur fisik rusak berat. Pihak kampus meluncurkan program bantuan finansial dan sembako bagi mahasiswa terdampak ekonomi akibat bencana. Berkoordinasi dengan pemerintah pusat, alumni, dan lembaga donor, proses rehabilitasi gedung mulai dilakukan secara sistematis dengan standar keamanan bencana yang lebih tinggi.
Bencana ini menjadi ujian mental yang berat, namun UIN Sumatera Barat membuktikan bahwa mereka lebih dari sekadar institusi pendidikan. Mereka adalah simbol ketangguhan (resilience). Semangat gotong royong antara mahasiswa, dosen, dan masyarakat sekitar menjadi pondasi utama dalam membangun kembali kampus yang lebih kuat.
Trauma mungkin tidak akan hilang dalam semalam, namun tekad untuk bangkit telah tertanam. Di bawah bayang-bayang reruntuhan, UIN Sumatera Barat kini tengah merajut kembali harapan untuk masa depan yang lebih tangguh.

