Navigation

Fenomena Ojek Online Bentuk Kapitalisme Media Baru



Jakarta, IMC - Jika mayoritas pengguna sosmed aplot foto dengan kostum yang megah, duduk di jok kanan mobil mewah, atau di depan mobil eropa atau di belakang kemudi mobil sport untuk ditunjukan kepada teman-teman di beranda media sosialnya, saya justru bangga aplot foto dengan kostum ojek online.

Perjuangan para rider ojek online sesuai pengamatan saya, beberapa waktu lalu, bertempat di pusat rekrutmen rider grab, di Taman Wiladatika Cibubur Jakarta Timur, mereka lebih dari 8 jam antre mulai dari pendaftaran, test safety riding, sampai akhirnya mendapat jaket dan helm. Salah seorang dari ratusan calon rider grab bahkan ada yang rela antre dan datang dari pukul 11 malam, Rabu (30/08/17) lalu.

Perjuangan para rider ojek online tidak sampai disitu saja. Setelah mendapatkan kostum dan aplikasi aktif justru disitulah awal mula perjuangan yang lebih besar bagi para rider.

Mereka harus gigih di jalanan, harus mampu menepis dinginnya angin malam maupun panasnya terik matahari pada siang bolong.

Berjibaku dengan kemacetan jalanan Jabodetabek, berkeringat asap dan bau ultraviolet adalah sahabat setia mereka sepanjang perjuangan menafkahi keluarganya.
Tantangan selanjutnya, mereka harus senantiasa tersenyum ramah pada setiap penumpang yang menggunakan jasa mereka. Meskipun senyumnya kadang terpaksa karena mendapatkan penumpang yang aneh, cerewet, bawel, udah gitu pelit pula, ditambah bayar menggunakan grabpay plus promo, selain itu mintanya macam-macam. 


Ada yang minta masker, tutup rambut, protes motornya jelek dll. Semua itu para rider tetap ramah, hati-hati dan mengutamakan keselamatan selama berkendara, senyuman saat selesai "drop off" adalah wajib meski terpaksa, hal itu semata hanya agar penumpang tidak memberikan bintang sedikit, karena bisa fatal jika rider dapat feedback satu, dua, atau hanya tiga bintang dari penumpang.
Perjuangan rider ojek online sungguh luar biasa. Mereka yang panas perih, dan bersikap serta bertindak baik dengan penuh jiwa raga, ternyata mereka hanya membuat kaya sang pengusahanya.

Penghasilan mereka dipotong sebesar 20% setiap transaksi mengantarkan penumpang.

Kita hitung berapa estimasi penghasilan kantor ojek online perhari.

Contoh kasus, ada 50.000 rider ojek online dengan pedapatan bruto Rp. 100.000,- maka 20% untuk kantor sebesar Rp. 20.000,- dikalikan 50.000 rider (Rp. 20.000.- x 50.000) jadi total pendapatan pengusaha ojek online tiap hari sebesar Rp. 1.000.000.000.- ( Satu Milyar Rupiah). Nah, artinya pengusaha meraup keuntungan bruto sebesar Rp. 30.000.000.000.- ( tiga puluh milyar rupiah) per bulan.
Mirisnya, para pejuang mereka, para rider online hanya mendapat Rp. 80.000,-/hari.
Nasi padang pake telor plus sayur aja Rp. 10.000,- dengan tiga kali makan sehingga masih sisa Rp. 50.000,- 
Untuk mendapatkan uang sebesar itu, rider merogoh kocek sebesar Rp. 20.000,- untuk bahan bakar motornya.

Di kantong rider menyisakan tiga lembar pecahan sepuluh ribu alias Rp. 30.000,-
Kopi hitam dua cup plastik seharga Rp. 5.000,- selain itu sebungkus kretek seharga Rp. 15.000,-
Dari Total pendapatan rider sehari sebanyak Rp.100.000,- setelah dipotong kantor, makan dia selama "ngetrip" alias "ngojek"  kopi, rokok dan bensin tersisa hanya Rp. 10.000,- (Sepuluh Ribu Rupiah).
Dengan uang sepuluh ribu rupiah, rider punya tanggungan menafkahi seoranf istri dan anak-anak di rumahnya.
Lalu, bagaimana mungkin bisa hidup? jangankan hidup layak, hidup aja susah.

Beginilah fenomena Kapitalisme yang sadar atau tidak, direncanakan atau tidak, dipahami atau tidak, sudah menjajah ekonomi rakyat. (red)
Share
Banner

Indonesia Media Center

Indonesia Media Center, Mewujudkan Keterbukaan Informasi Publik

Post A Comment:

0 comments: