Navigation

Brigade Nusantara (Brinus) Gelar Diskusi Online tentang Kebangsaan

Jakarta, IMC - DPN Brigade Nusantara  (Brinus) menggelar diskusi online dengan mengangkat tema "NKRI dan Bhineka Tunggal Ika." Hal itu disampaikan Endri Hendra Permana kepada IndonesiaMediaCenter.com, Selasa (16/5). 
"Diskusi ini digagas hasil kajian bidang politik dan hukum Brinus dengan melihat dinamika kebangsaan," kata Endri.
Diskusi dimulai pkl 17.00 wib dan berakhir pkl 22.15 wib. Diskusi yang dipandu Akhmad Bumi dari Ketua LBH Brinus ini didahului dengan memutar secara online lagu Indonesia Raya, juga pengiriman foto bendera merah putih raksasa yang diterjunkan dari udara sebagai bentuk motivasi peserta diskusi, setelah itu dari DPN Brinus menyampaikan materi 1 sampai dengan 5 tentang sejarah NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, lalu didiskusikan.
Dari diskusi online ini, beberapa pikiran muncul dari peserta diskusi antara lain datang dari Mayjen TNI Purn. Sutrisno menyampaikan pikirannya antara lain bahwa geo politik kita adalah Pancasila dan geo strategi kita adalah politik bebas aktif. 
Perwira pensiunan Angkatan Darat ini mengatakan Indonesia saat ini seolah menjadi gamang dalam  perjalanannya, seolah kehilangan empati solidaritas dan kepedulian, salah satu penyebabnya adalah implementasi nilai-nilai pancasila luntur. 
Kita ini demokrasi Pancasila, bukan demokrasi liberal. Implementasinya nilai-nilai Pancasila sudah keluar dari nilai-nilai luhur Pancasila yang seharusnya kita tegakkan seperti mengedepankan asas kekeluargaan. Yang ada saat ini adalah individualisme yang tinggi, sementara individuisme adalah praktek demokrasi liberal, dan itu tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara kita.
Menurut pak Barto, sebutan nama dalam group online mengatakan karena hegemoni atau kendali bangsa luar cukup kuat terhadap Indonesia. Sehinggga cukup mempengaruhi kinerja pemerintahan yang memiliki cita-cita untuk mewujudkan Bhineka Tunggal Ika seperti yang diletakkan para pendiri bangsa. Padahal konsep pak Presiden adalah Trisakti atau berdiri dengan kaki sendiri, itu adalah konsep  bagus.
Pak Andi dari Semarang bahkan mencurigai kalau carut marut bangsa ini berawal dari pengesahan internasional covenan on economic, social dan cultural right tentang hak ekonomi, sosial, politik yang dirativikaai kedalam UU Nomor 11 tahun 2005, yang memberi kebebasan penuh pada individualisme atas dasar HAM dan demokrasi, bebas tanpa batasan nilai. Padahal itu tidak sesuai dengan Pancasila.
Seperti apa nilai-nilai yang tidak diimplementasikan, menurut Akhmad Bumi selaku pemandu diskusi akan didiskusikan kembali dalam sebuah forum seperti disampaikan pak Wibowo. Pak Yogi mengingatkn agar kita tetap menjaga keutuhan, persatuan dan kesatuan bangsa serta tidak menerima pikiran yang memecah belah bangsa. Yogi mengusulkan agar ada lembaga pengawal Pancasila. Kalau MK mengawal konstitusi, perlu ada lembaga khusus yang mengawal Pancasila.
Solusi yang ditawarkan dalam diskusi online ini adalah usaha yang sungguh-sungguh dari semua pihak untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam Bhineka Tunggal Ika, berbeda tapi tetap satu.
"Diskusi online ini sebaiknya ditindak lanjuti dengan penyelenggaraan suatu forum diskusi panel dengan menghadirkan sebanyak mungkin para ahli atau pakar yang berkompeten yang mempunyai perhatian serius terhadap permasalahan bangsa dimaksud," saran pak Wibowo dalam diskusi online tersebut.
"Forum ini diharapkan dapat menghasilkan modul-modul implementasi nilai-nilai Pancasila yang dapat diaktualisasikan dalam berbagai bentuk yang bertema wawasan kebangsaan yang mengakar pada NKRI dan Bhineka Tunggal Ika," tandas Endri Hendra Permana selaku Ketua Umum Brinus. (red/ab)


Share
Banner

Indonesia Media Center

Indonesia Media Center, Mewujudkan Keterbukaan Informasi Publik

Post A Comment:

0 comments: