Navigation

Konstruksi Sosial Teknologi dan Prostitusi Online



Konstruksi Sosial Teknologi dan Prostitusi Online
Oleh : Syaefudin (Pemimpin Redaksi IndonesiaMediaCenter.com)
Jakarta, IMC - Komunikasi adalah aktivitas dasar manusia yang tidak bisa dihindarkan. Dengan berkomunikasi, manusia dapat saling berhubungan satu sama lain dalam seluruh aspek  kehidupan sehari-hari di manapun berada. Tidak ada  manusia yang tidak akan terlibat dalam komunikasi.
Salah satu definisinya, seperti yang diungkapkan Rubent,  komunikasi manusia adalah suatu proses melalui mana individu dalam hubungannya, dalam kelompok, dalam organisasi dalam masyarakat menciptakan, mengirimkan, dan menggunakan informasi untuk mengkoordinasikan lingkungannya dan orang lain. Istilah memakai informasi menunjuk kepada peranan informasi dalam mempengaruhi tingkah laku manusia, baik secara individual, kelompok, maupun masyarakat. Apalagi saat ini kita berada di era masyarakat informasi.
Menurut Martin, masyarakat informasi adalah suatu masyarakat di mana kualitas hidup dan juga prospek untuk perubahan sosial dan pembangunan ekonomi, tergantung pada peningkatan informasi dan pemanfaatannya. Perubahan masyarakat membawa efek terbarukannya teknologi yang ada, seperti yang kita ketahui dengan teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology/ICT). Sekarang ini masyarakat dapat memperoleh informasi secara cepat dan lengkap dengan adanya jaringan komputer yang saling terhubung dari seluruh penjuru dunia (internet).
Internet adalah salah satu media baru yang tidak lain hanyalah sebuah alat ataupun sarana. Sebuah alat dapat digunakan dan dimanfaatkan sesuai dengan kehendak para user-nya. Demikian pula dengan para pekerja seks komersial (PSK). 
Praktik prostitusi konvensional kian hari kian mengalami kendala, baik kendala yang terkait dengan regulasi maupun kendala lainya yang berakibat berkurangnya omset penjualan dirinya. Para PSK tidak menyerah begitu saja, mereka berusaha dengan segala cara agar aktifitasnya tetap berjalan sesuai dengan harapan. tentu banyak upaya yang dilakukan oleh PSK guna memperoleh pelanggan. Salah satunya adalah terus-menerus berinteraksi dengan ”masyarakat luas”  secara berkesinambungan dengan jalan penyampaian dan penyebaran informasi tentang jasa jual dirinya.
Seiring dengan kebutuhan pemasaran, cara penyampaian informasi/pejualan dirinya yang dilakukan para PSK kini tidak terbatas hanya dengan face to face, lokalisasi, atau dengan menjajakan diri di pinggir jalan, namun juga  melakukan cara lain yang dianggap lebih menarik dan sesuai dengan perkembangan teknologi yang ada, yakni penggunaan  teknologi situs web atau internet. 
Tidak dapat dipungkiri internet sekarang menjadi media yang tidak bisa dilepaskan dari kegiatan kehidupan. Betapa besar peranan internet bagi penggunanya. Berawal dari sebuah fasilitas yang hanya untuk berbagi informasi hingga akhirnya menjadi sebuah jembatan penghubung antarindividu meski berbeda lokasi. Internet juga sudah menjadi keharusan digunakan untuk meningkatkan pola hidup masyarakat karena kemudahan dan manfaat yang didapat.
Internet pada dasarnya merupakan  sebuah jaringan antar-komputer yang saling berkaitan. Jaringan ini tersedia secara terus-menerus sebagai pesan-pesan elektronik, termasuk email, transmisi file, dan komunikasi dua arah antar-individu atau komputer.
Jika dibandingkan dengan teknologi komunikasi tradisional, pemilihan dalam penggunaan media internet ini tentu dikarenakan tingkat interaksi dan kecepatan yang dapat dinikmati pengguna untuk menyiarkan pesannya. Internet ialah satu-satunya media yang dapat memberi setiap penggunanya mampu berkomunikasi seketika dengan ribuan orang. Internet ialah perkakas sempurna untuk menyiagakan dan mengumpulkan sejumlah besar orang secara elektronis. Informasi mengenai suatu peristiwa dapat ditransmisikan secara langsung, sehingga membuatnya menjadi suatu peranti meriah yang sangat efektif.
Meskipun demikian, perlu disadari bahwa setiap media memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri,  termasuk internet. Jika media massa pada umumnya memberikan informasi atau berita yang bersifat umum, kemasan bahasa yang sudah disortir terlebih dahulu, memiliki batasan yang jelas, dan dikemas dalam bahasa yang menarik sehingga menimbulkan pengertian pada komunikan,  tidak demikian dengan media internet. 
Media internet cenderung bersifat umum, tetapi tidak memiliki batasan yang jelas terhadap informasi yang diberikan. Di sini komunikator juga bisa bertindak sebagai komunikan,  artinya siapa saja boleh menulis di internet tanpa memikirkan terlebih dahulu bahasa yang digunakan, baik tingkat kesopanan maupun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. 
Selain itu, tidak ada yang menjamin keabsahan sebuah materi di dalam sebuah situs di internet. Karena itulah, komunikan harus cermat dan menilik seberapa kredibel orang-orang yang memuat informasi tersebut. Komunikan harus hati-hati dalam menyelidiki apakah komunikator tersebut mempunyai kapabilitas untuk mengatakan/menulis hal-hal yang dimuat pada internet tersebut.
Demikian juga terhadap proses penyampaian pesan atau informasi terhadap khalayak. Pada media internet semua orang bisa mengakses informasi yang mereka butuhkan, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua orang mengerti atau mengetahui tentang media baru internet ini, baik tentang cara mengoperasikannya ataupun yang berkaitan dengan fasilitas penunjang internet itu sendiri, seperti komputer, laptop, wifi, modem, atau sarana umum yang menyediakan fasilitas internet seperti warung internet (warnet). Selain itu, tidak semua orang dapat menikmati fasilitas internet, terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah yang gaptek, atau kalangan yang paham teknologi tapi tidak memiliki fasilitas penunjang internet.
Namun, di samping kelebihan dan kekurangan tersebut, perkembangan dunia internet bergerak begitu cepat dan tetap menjadi media yang efektif dalam penyampaian informasi, serta penggunaannya tidak terbatas pada industri-industri maju untuk mempromosikan atau mengkampanyekan produknya. Saat ini terdapat banyak situs web atau internet yang dinilai efektif dalam penyampaian informasi, mulai dari web resmi perusahaan atau instansi pemerintah, blog, hingga social media seperti facebook hingga twitter. Penggunaannya tentu tergantung pada pangsa konsumen atau sasaran yang akan menggunakannya. 
Masyarakat Indonesia sebagian besar telah mengakses internet dan memiliki akun media sosial. Kondisi ini dimanfaatkan oleh para PSK yang menggunakan media internet untuk mensosialisasikan dirinya kepada para calon pelanggannya. Sesuai dengan pengamatan saya dilapangan, ada beberapa sius media social yang dimanfaatkan oleh para PSK untuk menjajakan dirinya. 
Beberapa media sosial tersebut antara lain Twitter, dan aplikasi lainnya yang diakses dengan gadget seperti Wechat dan aplikasi-aplikasi pertemanan berbasis android lainnya.
Para PSK giat dalam memanfaatan social media untuk merangkul semua elemen masyarakat yang semakin terbuka terhadap informasi dan teknologi. Penggunaan kedua media tersebut dimaksimalkan karena situs dan aplikasi jejaring sosial ini menjadi sangat diminati oleh para penggiat internet karena social media mengedepankan interaksi, partisipasi, dan kolaborasi terbuka, dimana setiap orang mempunyai kesempatan untuk menyuarakan ide, pendapat, dan pengalaman mereka melalui media online.
Konstruksi Sosial Teknologi
Peter L. Burger dan Thomas Luckman mencetuskan teori sosiologi kontemporer yang disebut Konstruksi sosial. Dalam menjelaskan paradigma konstruktivis, realitas sosial merupakan konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu. Individu adalah manusia yg bebas yang melakukan hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain. Individu menjadi penentu dalam dunia sosial yang dikonstruksi berdasarkan kehendaknya. Individu bukanlah korban fakta sosial, namun sebagai media produksi sekaligus reproduksi yangkreatif dalam mengkonstruksi dunia sosialnya.
Social Construction of TechnologyTheory yang dikemukakan oleh Trevor J. Pinch and Wiebe E. Bijker (1987), mengatakan bahwa teknologi tidak menentukan tindakan manusia tetapi sebaliknya, manusialah yang membentuk nilai dari sebuah teknologi berdasarkan pemikiran (konstruksi) mereka. Jika dikaitkan dengan teori tersebut, media social twitter adalah hasil dari pemikiran (konstuksi) masyarakat terhadap perkembangan media informasi. Makin tinggi kebutuhan masyarakat akan informasi membuat manusia terus menerus menciptakan teknologi yang semakin praktis dan canggih. Dimana teknologi tersebut dapat mengatasi jarak, ruang, dan waktu serta makin mendekati kesempuraan seperti berkomunikasi secara tatap muka (face-to-face).
Ketika lokalisasi seperti Kali jodoh Jakarta, Gang Doli Surabay, dan Saritem Bandung perlahan ditutup oleh pemerintah setempat, diikuti oleh pemerintahan daerah dikota yang lain, ada satu hal yang membuat mereka (para PSK) masih eksis di seluruh pelosok negeri. Faktor penting tersebut adalah penggunaan internet. Secara fungsional internet adalah media pertukaran informasi yang tidak berbeda fungsinya dari sebutlah itu telepon, koran, faksimil. 
Tetapi internet memiliki empat karakteristik yang membuatnya menjadi superior dibanding media komunikasi lainnya. 
Pertama adalah biaya penggunaan yang relatif murah. Kedua adalah sifatnya yang real time. Ketiga adalah sifatnya yang borderless. Tidak ada sekat-sekat ruang di media ini yang memungkinkan tiap orang dapat saling terkoneksi dengan baik. Keempat, dan ini yang paling penting, internet menyediakan ruang-ruang publik yang tidak dapat ditembus oleh otoritas penguasa. Ketika Kalijodoh gang Doli, Saritem ditutup oleh Pemerintah atas nama penguasa, bukan berarti kematian bagi para PSK. Internet lalu menjadi alternatif yang sangat jitu dalam penyebaran berita-berita Seks oleh para PSK.
Karakteristik-karakteristik tersebut menjadikan internet media yang paling efektif dalam bisnis esek-esek saat ini. Jasa Pijat panggilan, dan jasa cinta satu malam dapat disebar tanpa adanya hambatan dari penguasa. Aksi-aksi “demokrasi” ala PSK dapat terkonsolidasi dengan mudah lewat penggunaan internet khususnya lewat situs Media social “Twitter”. Para Lelaki Hidung Belang mendapat feedback yang cepat melalui internet. Internetlah memberikan suatu kesempatan yang baru bagi para PSK dan pelanggannya untuk saling berinteraksi secara lebih intensif.
Berkembanganya suatu teknologi adalah hasil dari konstruksi sosial (socially constructed). Suatu teknologi berkembang sebagai suatu hasil bentukan sosial (social shaping) di mana teknologi tersebut berada. Ahli teknik dan ahli desain yang merancang suatu produk teknologi “hanyalah” agen-agen teknis yang “tunduk” pada proses sosial antara produk teknologi dan masyarakat pengguna. Teknologi bukanlah suatu entitas vakum dan bebas nilai. Ketika berinteraksi dengan masyarakat pengguna, teknologi mengalami proses appropriation (diterjemahkan secara bebas sebagai penyesuaian).
Appropriation adalah suatu proses pemberian makna oleh kelompok-kelompok masyarakat berdasarkan nilai-nilai serta kepentingan yang ada pada masyarakat tersebut terhadap suatu produk teknologi Pemberian makna yang beragam, baik antar individu maupun anta kelompok, menjadikan proses perkembangan (evolusi) teknologi menjadi multikultural.
Dari penjelasan ini kita bisa memahami bagaimana “nilai” suatu produk teknologi pada suatu kelompok sosial tertentu berbeda dengan kelompok sosial lainnya karena perbedaan budaya kedua kelompok tersebut Sebagai misal, kecenderungan orang Indonesia dalam memaknai produk teknologi sebagai bagian dari gaya hidup menghasilkan nilai guna yang berbeda dengan orang Eropa yang memperlakukan produk teknologi semata-mata sebagai instrumen. 
Contoh yang gamblang adalah telepon seluler yang bagi orang Indonesia dianggap bukan hanya sebagai alat telekomunikasi, seperti yang dilakukan oleh orang Eropa, tetapi sebagai simbol status. Perbedaan “makna” ini berimplikasi pada proses appropriation yang berbeda terhadap produk teknologi yang sama yang mempengaruhi proses perkembangan teknologi tersebut.
Pemaknaan teknologi di masyarakat beradasarkan pada  kebutuhan dan tujuannya masing-masing penggunanya. Masyarakat menganggap media jejaring sosial yang merupakan hasil dari teknologi media baru hanyalah sebuah sarana. Jika usernya adalah PSK, maka sarana tersebut dimanfaatkan untuk keperluan usaha jual dirinya. Begitu juga dengan user lainnya sesuai dengan segmentasinya. (red)

Referensi:
Bijker, Wiebe E., Thomas P. Hughes, and Trevor J. Pinch, eds. (1987) The Social Construction of Technological Systems: New Directions in the Sociology and History of Technology. Cambridge
Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana
Martin, The Global Information Society (England: Aslib Gower, 1995 )
Muhammad, Arni, Komunikasi Organisasi (Jakarta:Bumi Aksara, 2008)
Theresia Ari Prabawati dkk, Seri Membongkar Misteri Internet (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2009)


Share
Banner

Indonesia Media Center

Indonesia Media Center, Mewujudkan Keterbukaan Informasi Publik

Post A Comment:

0 comments: